generasi biru : berat di tanda

dsc03802di

Kaka "Slank" dalam salah satu adegan di film "Generasi Biru"

Banyak tanda atau simbol bertebaran di film musikal “Generasi Biru” garapan tiga sutradara: Garin Nugroho, John De Rantau, dan Dosy Omar. Dari awal film, ada lima kupu-kupu animasi yang berterbangan, kupu-kupu adalah lambang grup band Slank. Film ini memang berlatar belakang lagu-lagu garapan grup musik Slank, bukan tentang biografi band ini seperti yang disangka banyak orang. Film ini ingin bercerita tentang keadaan sosial politik Indonesia dari mata Slank, begitu kata Garin Nugroho.

Ada animasi mesin judi yang melambangkan hidup ini perjudian. Ada perempuan bisu yang memandangi gambar-gambar aktivis mei 98, Wiji Tukul, Munir beberapa lainnya. Ada poster “orang-orang hebat” macam mahatma gandhi, ibu kartini, ratu elizabeth (?) yang diancung-ancungkan para slankers di sebuah konser slank. Ada anak kecil yang sembunyi di bawah meja karena orang tuanya diculik. Ada tokoh pemimpin yang tidak jelas ngomong apa (semacam bla bla bla bla bla) yang ingin mengejek para pejabat negara yang serba mengumbar janji. Ada banyak realitas Indonesia yang coba dibekukan dalam animasi, aksi teaterikal dan tarian dalam film ini dengan lagu Slank sebagai benang merahnya. Slank memang peka terhadap kondisi sosial di Indonesia, lagu-lagu mereka secara kritis merekam kondisi sosial, politik dan ekonomi di Indonesia.

Tidak ada dialog di film ini. Kalaupun ada, paling hanya opini para Slankers tentang pengaruh Slank dalam hidup mereka. Sisanya adalah simbol-simbol yang mencoba memvisualisasikan lagu-lagu Slank, semacam video klip yang panjang dan…………….membosankan! Kenapa saya bilang begitu?

Dalam “Opera Jawa”, Garin juga bermain dengan simbol-simbol. Ada tarian dan instalasi karya seni yang sangat megah dan bersatu padu dengan anggun. Tapi di “Generasi Biru”, simbol-simbol dalam perpaduan tari, teater, animasi dan lagu Slank sendiri saling campur aduk tidak karuan, norak. Simbol-simbol yang dibuat terlalu standar, seperti tidak menyediakan ruang untuk kita berpikir, semacam mencaplok ide-ide besar tanpa adanya kedalaman pemahaman. Semua simbol dibekukan dengan pemahaman rendah, misalnya, kenapa untuk menggambarkan keterbungkaman masyarakat pada jaman orde baru harus memakai lambang perempuan yang bisu, yang memegang kertas tanda tanya yang lantas dirobek-robek lalu memandangi foto-foto orang hilang? Terlalu gamblang dan dangkal, seperti tidak ada niat untuk mengobservasi lebih lanjut. Beberapa animasi juga garapannya agak norak menurut saya. Ada banyak tipe animasi di film ini, stop motion, animasi ala video game dan animasi ala video klip Jamrud jaman dulu. Keragaman animasi ini bukannya bagus tapi malah saling menganggu satu sama lain. Dalam sebuah film tentu mereka tidak boleh dibiarkan berdiri sendiri-sendiri, tapi di film yang terjadi adalah tidak adanya memiliki benang merah visual, kecuali lagu Slank. Aksi-aksi (sok) teaterikal dari Nadine Chandrawinata dan Slank juga terlihat kurang oke. Bukan saja akting mereka yang terlalu “lebai” , tapi juga sekali lagi, konsep-konsep standar yang terlalu mudah dibaca sebagai simbol sehingga terasa membosankan.

Di tengah kekecewaan saya terhadap film ini (dan semua teman saya yang sudah menontonnya),  saya tiba-tiba berpikir ulang, sebetulnya untuk siapa sih film ini? Semua film memiliki audiensnya sendiri, sebut saja “Cintapucinno” yang target audiensnya remaja, “Petualangan Sherina” dengan target audiens anak-anak atau “Opera Jawa”, film “nyeni” yang sepertinya ditujukan untuk kalangan seniman. Menurut saya, “Generasi Biru” adalah film buat para slankers. Film ini sekaligus untuk memperingati 25 tahun perjalanan karier Slank. Kita tahu betapa besarnya pengaruh Slank bagi para penggemarnya. Waktu angota Slank akhirnya berniat “tobat” dan bebas narkoba, ada banyak sekali Slankers yang turut meneladani idolanya ini. Kebanyakan slankers (untuk tidak menyebut semua) adalah masyarakat kelas menengah ke bawah yang rela berjubel-jubel dan berusuh-rusuh agar bisa datang ke konser gratis. Film ini memang tidak memiliki target audiens yang sama dengan “Opera Jawa” sehingga ekspetasi tinggi saya terhadap simbol-simbol “susah” mungkin malah tidak akan sampai ke penonton yang ditargetkan.

Hal inilah membuat saya berpikir ulang dan melihat sedikit “sisi terang” di film ini. Saya pikir masih banyak yang bisa digali di film ini. Garin dan kawan-kawan terlalu sibuk berkutat di urusan simbol yang menurut saya sok “nyeni’, mereka mencoba membekukan realitas lewat simbol. Padahal, realitas yang  ada tanpa disimbolkan, artinya film ini digarap dengan nuansa realis saja–tidak perlu surealis,sudah sangat menarik. Realitas yang tidak disimbolkan dalam film ini misalnya adalah wawancara dengan slankers dari penjuru negeri. Sangat menarik untuk mendalami bagaimana pandangan slankers terhadap slank dan keadaan politik Indonesia, semacam film dari slankers untuk slankers, bayangan saya.

Tapi inilah jalan yang dipilih Garin Nugroho dan kawan-kawan, film ini terlihat sangat mbentoyong (dibebani makna) yang sayang akhirnya cuma jadi sok bermakna.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s