saya dan barbie

Perkenalan saya dengan boneka Barbie, seingat saya, sudah dimulai sejak saya kecil. Sebagai anak tunggal perempuan, harus saya akui kehidupan masa kecil saya dilimpahi dengan Barbie dari segala jenis. Dibanding mainan-mainan lain, Barbie memang menjadi favorit saya. Saya punya banyak sekali boneka Barbie, dari tipe standar (Barbie dengan pakaian casual), pemadam kebakaran, dokter, penyelam, supergirl, koki, guru, babysitter, pokoknya banyaaak sekali. Saya juga punya banyak sekali perabotan rumah Barbie, rumahnya (tentu saja), kasur, dapur, kamar mandi (kloset dan bathtub), mobil, dan benda-benda kecil lainnya seperti lampu atau panci. Biasanya saya menata rumah Barbie sesuai impian saya akan sebuah rumah dan lalu membuat sebuah drama kecil antara Barbie-barbie saya. Biasanya sih, konflik percintaan antara Barbie dan Ken :) Jika bosan, saya akan menata rambut dan pakaian si Barbie, kalau iseng saya suka memandikan si Barbie dan bahkan, dengan logika anak kecil saya “rambut kan kalau dipotong tumbuh lagi” saya pun memotong rambut Barbie sampai botak :D Ibu saya cuma bisa melongo dan marah-marah.

Hubungan intim saya dengan Barbie hanya berlangsung sampai kelas 4 SD. Setelah merasa “terlalu dewasa” untuk bermain Barbie, saya asik mendengar musik-musik pop macam Backstreet Boys, Britney Spears dan Spice Girls. Hobi saya pun berubah, menghapalkan lagu-lagu mereka, membeli vcd konsernya atau memburu artikel mereka di majalah dan mengklipingnya. Saat banjir besar menghadang Jakarta di tahun 2002 dan rumah saya turut terendam, semua koleksi barbie saya hanyut, hilang dan saya toh ternyata kurang peduli.

Beranjak “dewasa” (dengan ukuran usia), sekalipun sudah tidak mengoleksi dan memainkan boneka Barbie lagi, ternyata memori saya tentang boneka cantik ini toh masih melekat. Setiap saya menjumpai toko mainan di mal-mal, saya masih mendatangi rak-rak penuh rentetan Barbie yang selalu membuat saya kagum. Saya cukup puas hanya memelototi baju-baju terbaru dan aksesoris boneka lainnya yang unik. Entah karena saya tidak punya uang untuk membelinya atau memang sudah tidak bernafsu, tapi saya benar-benar puas hanya dengan melihatnya.

Wacana feminisme tentang boneka Barbie tentu sudah akrab kita dengar. Dalam buku Barbie Culture: Ikon Budaya Konsumerisme, Mary F. Rogers, sang penulis, menganggap bahwa boneka Barbie adalah sebuah komodifikasi atas mitos tentang kecantikan. Menurutnya boneka Barbie mengandung unsur rasisme, seksisme, konsumerisme dan materialisme. Wacana ini tentu sudah sangat clear, argumen-argumen yang disampaikan pun cukup jelas. Barbie yang berkulit putih menggambarkan kekuasaan dan dominasi ras kaukasian. Tubuh sempurna Barbie dianggap menciptakan mitos tentang tubuh perempuan yang ideal sehingga menyebabkan obsesi akan kecantikan dan keindahan tubuh. Pernak-pernik rumah Barbie juga dianggap sebagai miniatur kehidupan dewasa yang hedonistis.

Tapi saya pribadi melihat argumen-argumen tersebut sebagai argumen orang dewasa terhadap Barbie. Saya, sebagai orang yang waktu kecil pernah sangat mengagumi Barbie, lantas kembali bepikir, apa iya pikiran saya telah  terkontaminasi akan rasisme, seksisme, konsumerisme dan materialisme saat bermain Barbie? Saya rasa, pemikiran anak kecil itu sangat sederhana, logika yang dipakai juga berbeda dengan logika orang dewasa. Sebagai anak kecil, saya melihat Barbie sebatas sebagai boneka yang bisa saya jadikan apa saja, wanita karir, ibu rumah tangga, pahlawan super. Saya senang menganti-ganti baju Barbie sesuai keinginan, mencopot kepalanya kalau kesal, memotong rambutnya kalau iseng. Anak kecil memang mudah dipengaruhi. Tapi isu-isu dewasa macam itu saya kira tidak sampai memengaruhi otak anak kecil. Sekali lagi saya berani menjadikan diri saya sebagai contoh. Saat sekarang saya telah tumbuh, toh ternyata saya tidak menjadi orang yang rasis, seksis, atau hedonis (setidaknya menurut refleksi narsisme saya). Masalah isu seksis, saya justru orang yang cukup feminis walau tidak terlalu radikal. Setidaknya saya punya kepedulian dan kesadaran atas isu-isu feminisme. Perkembangan wacana ideologis saya dimulai sejak saya memasuki bangku SMA berdasarkan apa yang saya baca dan dengan siapa saya bergaul. Sementara proses bermain saya dengan Barbie waktu kecil ternyata sama sekali tidak memengaruhi tindakan-tindakan saya. Ia hanya sekedar menjadi memori menyenangkan saya waktu kecil. Kesempurnaan tubuh Barbie yang saya kagumi waktu kecil tidak membuat saya yang telah dewasa menjadi terobsesi akan tubuh ideal.

Dibanding boneka Barbie, saya lebih mencemaskan televisi  yang lebih potensial merusak perkembangan anak. Dengan boneka Barbie, setidaknya anak-anak masih melakukan kegiatan dan dilatih kreativitasnya (misalnya mengganti baju dan menata rambut), tapi oke, inipun bisa jadi serangan kaum feminis karena mereka menganggap seharusnya perempuan tidak sekedar bersolek saja. Tapi menurut saya, Barbie pun membuka mata anak-anak bahwa perempuan bisa menjadi apa yang dia inginkan (dan tetap cantik). Barbie bisa menjadi astronot, montir, penyelam, dan hal-hal maskulin lainnya. Orang dewasalah yang menciptakan stereotipe bahwa kebanyakan perempuan cantik dan hobi bersolek itu bodoh.  Anak kecil butuh identifikasi diri, mereka butuh teladan, dan teladan tentu haruslah sesuatu yang ideal, bukan? Silahkan lihat beberapa Barbie cantik yang tetap bisa berprofresi “maskulin” ini.

Oke mungkin setelah ini kita akan memperdebatkan masalah “ideal” dan kekuasaan yang menentukan ke-ideal-an tersebut. Saya mengerti masalah tersebut, dan akan sangat panjang kalau mau diuraikan. saya pun jadi banyak dilema membaca banyak sekali kritik-kritik keren (i mean, keren beneran bukan sinis).

Intinya adalah, saya hanya ingin melihat boneka Barbie dari memori masa kecil saya sebagai anak kecil, boneka cantik teman bermain saya yang bisa jadi apa saja, tanpa harus pernah–sekali lagi sebagai anak kecil–memikirkan wacana tubuh dan gender. Saya, sebagai anak-anak yang dulu menggemari Barbie, merasa tidak pernah terkontaminasi dengan isu-isu yang diciptakan para kritikus Barbie karena toh sekarang saya merasa cukup jauh dari ketidaksadaran akan obsesi kesempurnan tubuh. Sepertinya :-)

Advertisements

2 Comments on “saya dan barbie”

  1. baju barbie says:

    Waa, salam kenal untuk pecinta barbie.

  2. ncim says:

    apa kabar dengan polly pocket?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s