instant art ala polaroid (The Polaroid Book review)

cover_sm Berkembangnya kamera digital di dunia fotografi ternyata tidak membuat kamera polaroid kehilangan penggemarnya. Ditengah sulitnya mencari film yang semakin jarang didapat (khususya di Indonesia), ternyata memotret dengan kamera polaroid dan merasakan kertas polaroid itu keluar dari kamera tetap menjadi eksotisme sendiri. Ketika dunia digital semakin menggila dan keinstanan yang “sebenarnya” mungkin telah ada, kamera polaroid tetap ada di hati orang-orang yang terlanjur jatuh cinta pada keunikan kamera ini.

Ide tentang kamera instan ini pertama kali muncul dari Edwin H. Land, seorang ilmuwan, penemu dan juga founder dari perusahaan Polaroid ini. Sejak ia menemukan teknologi fotografi sekali jadi ini tahun 1947, ia dipertemukan dengan Ansel Adams. Nama Ansel Adams tentu bukan tak asing bagi penggemar fotografi, ia adalah seorang fotografer jenius yang terkenal dengan karya-karya foto hitam putihnya. Land bekerjasama dengan Adams karena menyadari bahwa teknologi instant photography ini tidak akan berarti tanpa adanya potensi-potensi kreatif dari para pelaku dan penggemar seni. Semacam perkawinan antara seni dan industri. Adams pun ditunjuk untuk menjadi co-worker Polaroid Coorporation yang bertugas sebagai artist consulant.

Dari sinilah proyek besar itu dimulai, Adams mulai mengumpulkan seniman-seniman besar macam David Hockney, Helmut Newton, Jeanloup Sieff, and Robert Rauschenberg untuk berkreasi dengan kamera polaroid. Land dan Adams percaya bahwa hasil foto-foto dengan kamera polaroid pun patut mendapat penghargaan di museum atau galeri seni. Dipromotori oleh Land, Adams mengajak dan mengumpulkan karya-karya foto polaroid dari seniman-seniman muda potensial. Karya yang tak terhitung banyaknya dikurasi kembali oleh Barbara Hitchcock dan diterbitkan dalam satu buku berjudul “The Polaroid Book” yang berisikan 400 karya fotografi dari beragam seniman. Selain mengurasi, Barbara juga menulis semacam pengantar tentang sejarah polaroid sampai kisah mengapa buku ini bisa diterbitkan.

Melihat satu per satu karya-karya di buku ini membuat mulut saya menganga. Saya tidak menyangka dari kamera instan yang dulu setahu saya cuma dipakai di Monas untuk memotret turis ternyata bisa menghasilkan karya seni yang menakjubkan. Ya, menakjubkan! Simak beberapa karya yang ada di buku ini.

page2 page6 page3

Karya-karya ini hanya sedikit dari lebih banyak lagi karya-karya yang rumit dan mengagumkan dalam buku ini. Perhatikan karya kolase David Hockney pada gambar kedua, bayangkan betapa rumit dan seriusnya ia bekerja dengan kamera polaroidnya ini. Dalam buku ini ada beragam konsep dan eksperimen bertebaran. Bagi sebagian seniman, film polaroid adalah kanvas yang belum selesai. Beberapa diantaranya menggambar di atas kertas polaroid atau mengutak-atik proses transfer yang terjadi sebelum film keluar sehingga terciptalah warna-warna yang aneh dan indah, memberi kita sebuah pengalaman visual baru yang menakjubkan. Dari sinilah cita-cita Edwin H. land telah tercapai, ketika kamera Polaroid berhasil mengahsilkan karya seni yang patut disejajarkan dengan karya seni lainnya.

Lantas seperti apakah nasib Polaroid Corporation saat ini? Pada tahun 2002 perusahaan ini mengalami kebangkrutan dan asetnya dibeli oleh One Equity Partners (OEP). OEP pun mengganti nama Polaroid Corporation menjadi Polaroid Holding Company. Sejak saat itu, PHC mengeluarkan produk-produk seperti LCD plasma tv, DVD portable, kamera digital dan alat-alat eektronik lainnya. Tahun 2008, PHC mengumumkan bahwa mereka akan mengurangi produksi film Polaroid dan pelan-pelan akan menghentikannya. Selanjutnya, PHC mengeluarkan produk PoGo atau instan foto printer seukuran kartu kredit, semacam Polaroid tapi versi digital.

Hal ini tentu mengecewakan banyak pihak, khususnya para pencinta kamera Polaroid. Kekhasan film instan yang unik tidak dapat digantikan digital manapun karena ada eksotisme sendiri merasakan kertas film keluar dan voila!, beberapa detik kemudian muncullah foto kita. Keaslian foto Polaroid juga menjadi salah satu keunggulannya karena kita tidak akan pernah bisa menghasilkan dua foto yang persis sama dengan kamera ini. Ini sangat berbeda dengan file digital yang membuat kita bisa mencetak foto berkali-kali. Dalam beberapa forum saya membaca bahwa ada orang-orang yang masih peduli dengan keberlangsungan Polaroid sehinga mereka membuat petisi untuk tidak menghentikan produksi kamera dan film Polaroid. Tapi bagaimana output dari aksi ini, saya pun belum mengetahui kelanjutannya.

Sayang sekali jika kamera dan film Polaroid memang harus punah. Menggunakan kamera Polaroid bukan lagi semata masalah teknis tapi juga masalah perasaan, bagimana kita telah dibuat jatuh cinta oleh kamera instan yang mungkin sudah “kalah instan” lagi ini.

*thanks to wimo yang sudah membelikanku buku ini :-*

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s