toilets of the world: ruang privat yang publik

spaceballhome2 Siapa orang di dunia ini yang tidak pernah pergi ke toilet? Presiden, pelacur, guru,atau pengangguran pasti pernah pergi ke toilet. Penggunaan toilet melampaui segala ras, agama, umur serta kelas sosial. Dari orang yang paling miskin sampai bangsawan tertinggi, setiap dari kita patuh pada kebutuhan jasmaniah yang mendasar ini. Secara filosofis, keberadaan toilet bisa juga kita baca sebagai tempat paling privat bagi manusia modern yang serba terikat jaringan sosial. Dimana lagi kita bisa menyendiri, benar-benar sendiri selain duduk merenung di bilik toilet. Banyak pemikiran-pemikiran besar yang “lahir” dari toilet.

Selain sifatnya yang privat, toilet juga merupakan ruang publik yang berguna sebagai tempat berkumpulnya perempuan-perempuan bergosip, kumpulan coretan-coretan mesum atau sekedar numpang eksis di dinding toilet atau tempat kaum gay saling menunjukan “barangnya” (data ini saya baca di http://www.queernation.wordress.com) Walaupun belum ada term “toiletologi” sebagai ilmu, tapi penelitian terhadap penelitian toilet mampu menciptakan suatu analisis kebudayaan dan sosiologis terhadap masyarakat yang tinggal di dunia yang berbeda. Kita sebagai orang Indonesia tentu pernah mendengar ungkapan, jika ingin melihat kepribadian seseorang dari rumahnya, lihatlah toiletnya, bukan ruang tamunya.

Toilet ada dimana-mana, dan mungkin anda tidak pernah menyangka betapa besar hasrat kreativitas manusia menghias benda yang biasa tabu untuk dibicarakan ini. Keragaman toilet di penjuru dunia didokumentasikan dalam buku ini. Sebut saja toilet termahal di dunia yang terbuat dari emas di Hongkong, toilet dengan delapan tombol yang bisa mengecilkan atau mengencangkan suara flush di Jepang atau toilet dengan kursi duduk yang empuk di India. Simak beberapa foto toilet yang ada di buku Toilets of The World berikut ini:

usa2 india1 germany2

Keragaman toilet, mulai dari yang paling busuk sampai yang terbuat dari emas, menunjukan adanya perbedaan memaknai toilet sebagai tak hanya semata fungsinya,  tapi juga sebagai ruang berkontemplasi yang super nyaman, sangat jauh berbeda dengan “esensi” utama toilet, tempat pembuangan. Ketika fungsi toilet melakukan negosiasi dengan makna-makna lain yang disematkan padanya, kita dapat melihat betapa mengharukannya perjuangan manusia yang ingin mengangkat martabatnya. Nafsu alamiah inilah yang menjadikan fungsi toilet sebagai ruang privat kembali terkonotasi menjadi ruang publik.

Advertisements

One Comment on “toilets of the world: ruang privat yang publik”

  1. Ren says:

    Brijit!!!!!
    Tulisan yg mengesankan!
    Seperti biasa 4 jempol.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s