kentut kosmopolitan: jakarta yang masih sontoloyo

coverkentut_small

Dalam dunia kita, kesehatan itu lebih dari berguna. Menahan kentut dianjurkan oleh kesopanan, tetapi sangat tidak berguna untuk kesehatan. Nalar manusia harus bekerja, jangan menyerah kepada yang tidak masuk akal, karena konsensus kentut sedunia ini sangat-sangat-sangat bisa diubah. Jika tidak, kehidupan akan masih penuh dengan kebohongan, karena konflik kepentingan antara kesopanan dan kesehatan ternyata diatasi dengan dagang sapi: dalam pergaulan orang- orang sopan, kentut tetap diberlangsungkan diam-diam. Hanya Si Buta dari Gua Hantu yang bisa mendengarnya, apakah di dalam rapat kabinet terdengar bunyi psssttt, atau di tribun kehormatan, dalam riuh genderang dari drumband yang sedang lewat, sebetulnya terdengar juga bunyi brrooootttt!

Seno kembali melucu. Dan tentu saja melucunya ini bukan seperti yang di tv-tv macam acara Tawa Sutra XL, misalnya. Saya sebut lelucon khas Seno adalah dark humour. Lucu, tapi miris. Lihatlah cara dia menggabungkan kata “kentut” dan “kosmopolitan”. Disini Seno mepertentangkan kesopanan dan kesehatan, mana yang lebih penting?  Pertanyaan ini bisa jadi terlihat main-main, tapi toh ternyata penting. Menahan kentut bisa menyebakan perut sembelit, tapi jika melepaskannya di situasi formal, bunyi dan bau pula, biasanya para Homo Jakartensis bisa malu setengah mati, gengsi lah yaw!

Kata gengsi masih menjadi fokus utama dalam 65 obrolan yang terkumpul dalam buku ini. Manusia-manusia yang memberhalakan kesuksesan di Jakarta ternyata memiliki banyak fenomena yang menarik, yang kadang kita pandang sambil lalu, tapi ternyata sangat penting. Seno melihat hal-hal kecil macam kentut, larangan membawa makanan dan minuman dari luar di restoran mewah, bakpao di tengah jalan atau udel bodong yang “dijajakan” dimana-mana. Cara berceritanya khas: lucu, cuek, nyeleneh, tapi toh tetap cerdas.

Kumpulan tulisan ini adalah  sekuel dari buku Affair, yang juga merupakan buku kumpulan tulisan Seno di majalah Djakarta!, diterbitkan oleh Penerbit BukuBaik tahun 2004. Berangkat dari Affair, Seno ternyata merefleksikan kembali apa yang ditulis sebelumnya. Jika dalam Affair ia menyindir para konsumen agung dengan argumen yang kini ia sendiri anggap klise, maka dalam Kentut Kosmoplitan ada perubahan cara pandang Seno terhadap urusan konsumsi. Bahwa membeli barang-barang karena tanda bukan fungsinya adalah sahih dalam wacana politik identitas, Seno menjadi pengamat dalam melihat bagaaimana ekonomi antar budaya berlangsung. Ia tidak lagi sekedar menyindir, tapi juga mengamati maknanya berdasarkan wacananya. Menurutnya, siapakah kiranya saat ini manusia yang dapat terhindar dari dominasi suatu wacana? Tiada makna diluar wacana.

Teori-teori tentang nilai, petanda-penanda, konotasi-denotasi yang digagas filsuf-filsuf terkenal macam Foucault, De Sasussure atau Sartre menghiasi perbincangan Seno tentang Jakarta. Perbincangan teoretik inilah yang tidak ada di Affair dan saya anggap sebagai kemajuan dalam Kentut Kosmopolitan. Sayangnya, karena kumpulan obrolan ini dikumpulkan dalam satu buku, membaca teori-teori itu secara berulang-ulang memang akan terasa membosankan, berbeda kasusnya jika kita membacanya di majalah Djakarta! yang terbit sebulan sekali. Tapi kemampuan Seno mengangkat subjek tulisannya yang selalu unik, masih membuat saya tersenyum kagum. Kelakuan-kelakuan Homo Jakartensis yang sontoloyo bisa ia potret dengan lucu, terlihat sederhana tapi ternyata mengandung banyak pergulatan antar wacana.

Masalahnya, hidup ditengah-tengah pergulatan antara nilai yang “baik”, dianggap benar, dianggap pantas, terpuji, beradab dan selanjutnya itu bukanlah kebenaran universal alami dari sononya, tapi merupakan hasil pergulatan budaya antar pihak, atau antar kuasa. Yang jika berubah hubungan-hubungan kuasanya, maka akan berubah pula nilai-nilai nya. Nah, apakah para Homo Jakartensis yang akan tua dan menghabiskan umurnya di jalanan dan tempat kerja akan mampu mengeja pergulatan ini? Mereka punya tiga opsi atas hegemoni nilai yang mencoba mendominasinya, apakah dengan: menerima, bernegosiasi, atau melawan. Mana yang akan mereka (kita) pilih?



Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s