jangan keluar dari konsep: kisah kebrutalan lomonesia

Simak email dari Teguh Haryo, public relation Lomonesia yang dikirimnya ke email teman saya, Ayomi:

untuk konsep pameran jangan melenceng dari konsep lomography yahh, pameran yang akan diadakan pameran resmi atau tidak
jangan menyebut diri lomojogja yang betul lomographic society jogja. kalo pameran resmi society, tolong kasih keterangan ke kita dengan detail
konsepnya

Thanks
teguh haryo

Email yang dia kirim merupakan balasan atas email Ayomi ke milis Lomonesia yang berisikan rencana teman-teman Lomo Jogja mengadakan pameran di distro MC2 tanggal 14-22 februari 2009 dengan tema “Hearty Labs.” Balasan ini betul-betul membuat kami, setidaknya saya dan Ayomi, kesal dengan tanggapan kontra produktif dari Teguh Haryo, yang disini merupakan representasi dari Lomonesia.

Ini bukan kali pertama Lomonesia dengan arogannya mencoba mengatur “konsep” berpameran dengan kamera Lomo. Pada tahun 2008, mes56, sebuah kelompok fotografi dari Yogyakarta menggelar pameran bertajuk “Here Comes the Lomoheads” yang menampilkan karya lomografi konseptual dari keempat anggota mes56. Sebuah pameran yang sangat menarik, dibuka dengan penampilan Efek Rumah Kaca, pameran tersebut berlangsung ramai. Simak karya-karyanya di http://mes56.com/?p=1

Beberapa hari setelah pameran berlangsung, Wimo Ambala Bayang, salah satu peserta pameran, menerima telepon dari Grace, salah satu–saya tidak tahu tepatnya, tapi pokonya salah satu orang penting di Lomonesia. Wimo dimarahi, dengan nada yang tidak profesional oleh Grace. Menurut Grace, acara pameran Here Comes the Lomoheads (selanjutnya saya sebut HCL) tidak mendapat ijin dan persetujuan dari Lomonesia, yang merupakan ambassador langsung dari Lomographic Society International. Menurutnya, semua kegiatan yang berbau, atau memakai kata “LOMO” di dalamnya harus berada di bawah pengawasan Lomonesia. Grace merasa patut untuk marah karena menurutnya ia telah dihubungi oleh Lomography Hongkong yang menurutnya lagi, menyatakan rasa  kecewanya karena tidak tahu menahu sebelumnya ada acara ini. Cukup tidak masuk akal, karena, bagimana caranya mereka sampai tahu ada acara semcam ini di Indonesia? Setelah itu, Grace pun meminta mes56 untuk membuat surat permintaan maaf yang ternyata, setelah dibuat oleh Wimo tidak mendapat tanggapan balik dari Lomonesia ataupun Lomographic Society International. Padahal, Grace meminta agar surat itu dibuat dengan bahasa Inggris agar ia bisa mengirimkannya ke Hongkong. Tidak adanya tanggapan balik membuat beberapa pihak yang merasa dirugikan berpikir bahwa jangan-jangan ini hanya akal-akalan Lomonesia yang ingin sok wibawa sahaja.

Kejadian ini menyadarkan saya dan teman-teman akan substansi LOMO yang sesungguhnya. LOMO bukan kamera. Bukan gaya hidup. Bukan komunitas. Dia adalah merek dagang, dan kata dagang berkaitan dengan keuntungan (semata). Bagi saya Lomonesia sudah melupakan fungsinya sebagai wadah untuk mengumpulkan para penggemar lomo. Lomonesia kini semata hanya mengeruk keuntungan dari maraknya tren kamera lomo di Indonesia. Kata “komunitas” dimanfaatkan oleh Lomonesia untuk menjadikan anggota-anggotanya di berbagai daerah sebagai alat promosi gratis yang sangat efektif.

Kembali pada email Teguh Haryo yang mengatakan, “untuk konsep pameran jangan melenceng dari konsep lomography yahh“, saya sebetulnya sangat bingung dengan apa yang dia maksud dengan “konsep”. Pameran HCL pun sempat dikritik Lomonesia karena melenceng dari konsep “fun” yang coba dibangun oleh Lomography. Konsep “serius” dalam pameran HCL dianggap merusak imej LOMO yang serba main-main. Pameran LOMO biasanya memakai lomowall, sebuah konsep dimana foto-foto lomo digabung menjadi satu, mengaburkan identitas si lomografer karena merupakan karya bersama. Konsep lomowall hanya memberi efek estetis atas foto-foto yang diproduksi kamera ini, warna-warna indah dan pola-pola yang “sekedar” lucu. “Konsep” ini saya rasa adalah salah satu jurus promosi Lomonesia agar orang awam memandang lomo sebagai kamera yang mudah dan tinggal beli dan jepret. Padahal, sayangnya menggunakan kamera lomo tidak semudah memencet tombol “klik”. Buktinya, coba saja cek milis Lomonesia yang isinya penuh keluhan “newbie” (istilah orang-orang yang baru memakai kamera lomo) karena hasil fotonya blur, under atau bahkan, tidak tahu cara memasukan film ke dalam kamera.

Kegaduhan anak-anak gaul yang sekarang serba ikut-ikutan memakai kamera lomo sekedar sebagai tren membuat muak berbagai pihak. Tapi tentu saja Lomonesia tetap bahagia karena berarti kamera dan film yang mereka jual laku keras. Sayangnya perkembangan tersebut tidak berbanding lurus dengan kualitas hasil karya para pengguna kamera lomo di Indonesia. Karena selalu dipagari konsep “fun” maka hasil foto menjadi itu-itu saja. Saya yakin akan terjadi kejenuhan di satu titik dan akhirnya bisnis ini pun siap gulung tikar. Tidak mendoakan sih :)

Masalah “konsep” sebetulnya masih agak kabur bagi saya. Pada konsep manakah dalam emailnya, Teguh Haryo mengacu? Lomography punya semacam 10 “aturan” dalam menggunakan kamera lomo. “Don’t think just shoot” adalah salah satu jargon paling terkenal, jargon yang akhirnya dijadikan pembenaran atas foto-foto blur, gelap atau tidak fokus. Jika dijadikan lomowall memang akan terlihat agak menarik karena warna-warnanya yang unik, tapi jika dilihat satu per satu, tak jarang foto tersebut sepeti–maaf, sampah. Ketidakkuatan konsep dalam lomography, yang akhirnya asal jepret itulah yang mengurangi kemampuan kamera ini yang sebetulnya sangat-sangat luar biasa. Inikah “konsep” yang Teguh Haryo maksud?

Jangan lupa peraturan nomor 10 yang isinya “Ignore all rules”! Konsep ini berarti membebaskan siapa saja yang sudah mengeluarkan uangnya membeli kamera lomo, atau mungkin meminjamnya, untuk memotret apapun yang dia inginkan, APAPUN, dan memamerkannya dengan bebas pula. Kita hidup di negara demokrasi kan, bung? Jika berkomunitas dengan Lomonesia ternyata hanya membatasi kreativitas saya dan teman-teman untuk membuat pameran yang konsepnya lebih dari sekedar fun, maka apa keuntungan yang akan saya peroleh dari komunitas ini?

Perlu diketahui sebagai “community representative” Lomo Jogja–eh sori, (Lomographic Society bla bla bla itu maksud saya), saya merasa tidak pernah diuntungkan oleh para pejabat komunitas. Sedikit dirugikan malah. Ditelpon anak-anak baru yang tidak tahu cara mengisi film. Menyediakan waktu dan pulsa untuk menghubungi anggota komunitas jika mau ada acara, yang semuanya bertujuan untuk mempromosikan Lomo di kota kami. Kenapa kami mau melakukannya? Karena lomo adalah hobi kami dan kami senang mendapat teman-teman baru. Mungkin ini juga tujuan mulia yang awalnya dimiliki Lomonesia, tapi semakin ke depan, ketika peluang bisnis semakin besar, kecintaan dan kesetiaan pada kamera lomo pun dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menghasilkan pundi-pundi uang di kantong mereka (saja).

Saya, secara pribadi menolak segala sistem yang feodal dan tidak transparan di tubuh Lomonesia. Untuk itu, saya memutuskan untuk “keluar” dari komunitas ini. Konsep “keluar” pun sebetulnya agak rancu, karena toh saya tidak pernah secara formal memasuki komunitas ini. Sebetulnya memang tidak perlu ada formalitas atau otoritas yang mengatur terlalu jauh dalam sebuah komunitas, seperti mengatur konsep misalnya. Mungkin lebih tepatnya saya menolak berurusan dengan segala hal yang berbau Lomonesia karena mereka berusaha mengatur isi kepala saya. Saya akan tetap memakai kamera lomo, memotret apapun yang saya suka, dan berpameran kapanpun saya mau. Anda pun juga bisa begitu, kalau mau.

Advertisements

8 Comments on “jangan keluar dari konsep: kisah kebrutalan lomonesia”

  1. gilang arenza says:

    wah sepertinya persaan ini juga saya alami..
    knapa lomonesia selalu mementingkan merk dagang?sya jadi makin ragu buat ngebentuk lomo society di semarang..
    males juga kalo kreativitas kita dikebiri semacam ini..apa apa harus lapor.

    • brigitta isabella says:

      betul sekali mas nya, mau seneng2 aja kok pake diatur. daripada jadi agen MLM nya lomonesia lebih baik bikin komunitas lain yang lebih fleksibel :) saya dan temen2 di jogja lagi giat di komunitas toy camera :D

  2. renny says:

    Gita,
    dirimu terlalu berharga untuk sekedar dijadikan agen mlm.

  3. tomi says:

    hello gita..
    kenalkan nama saya tomi, salah satu founder lomonesia.

    saya mengerti kemarahan gita terhadap lomonesia..
    mungkin ada sedikit kesalahpahaman yang terjadi komunikasinya..
    jadi memang benar lomography adalah merek dagang yang dimiliki LOMOGRAPHY SOCIETY INTERNATIONAL (www.lomography.com)
    sama dengan hal nya kamera canon atau nikon..
    dan mengenai nama pameran tersebut, memang ada peraturan dari mereka, yang tidak boleh menyebutkan hanya kata ‘LOMO’. tetapi harus ‘LOMOGRAPHY’ dan itupun dengan ijin ke pusat..
    contohnya adalah, kalau kita memakai misalnya kamera canon atau nikon, kita tidak bisa juga pameran dengan judul ‘NIKON HEADS’ atau ‘CANON HEADS’..
    ya kan?
    sama halnya dengan kamera lomography..

    dan mengapa tidak boleh ‘LOMO’? harus dengan ‘LOMOGRAPHY’?
    ‘LOMO’ adalah merek/ pabrik yang di rusia menghasilkan kamera LOMO LC-A. tapi tidak semua kamera (misalnya supersampler, actionsampler) diproduksi oleh pabrik LOMO. (ada yg diproduksi di china)
    jadi itulah alasan memakai kata ‘LOMOGRAPHY’..
    karena sudah berbeda pabrik dan merek dagangnya..

    mengenai LOMOHEADS, kita juga tidak mengetahui nya, sampai kemudian pihal regional asia yang berada di hong kong, mendapat teguran dari pusat (vienna).
    ternyata ada pihak LOMOHEADS yang mengirimkan email ke vienna mengenai pameran itu..
    jadi justru kita tahu dari pusat, bukan kita yang melaporkan..
    dan kita akhirnya ditegur..
    begitu ceritanya..

    berikut email yang kami terima dan kami kirimkan ke pusat (FOUNDER LOMOGRAPHY SOCIETY INTERNATIONAL).
    jadi kita kirim kok surat nya ke pusat, bukan akal-akalan belaka kok..

    maaf ya kalau gita tidak merasa nyaman..
    tapi begitulah peraturan yang diterapkan pusat..
    kamu hanya menjalankan apa yang sudah menjadi kewajiban kami..
    terimakasih banyak..

    (berikut email nya:)

    From: Pan Chan (pan@lomographyasia.com)
    Sent: Monday, June 16, 2008 6: 30 AM
    To: Wolfgang (wolfgang.stranzinger@lomography.com); Matthias Fiegl (matthias.fiegl@lomography.com); Sally Bibawy (sally.bibawy@lomography.com); Amira Bibawy (amira.bibawy@lomography.com); Katja Kulidzhanova (katja.kulidzhanova@lomography.com)
    Cc: lomo lomo (lomonesia@hotmail.com); Grace Lingga Lomonesia (grace.lingga@gmail.com)

    Attachments: 1 attachment Anti-virus scan by Windows Live OneCare
    permintaa…doc (85.9 KB),
    Dear all in Vienna,

    Thanks Our Lomographic Embassy Indonesia Ms. Grace for the information and the followup about the Indonesia LOMOHEADS matters,

    Please check the below email from grace and the attached apology letter from LOMOHEADS,
    I would like to ask Headquarter’s help to advise what’s the next action we should do to handle this case.

    I also included Grace in this email conversation.

    Pan Chan.
    GM / Creative Director
    ——————-
    Lomography Asia
    G/F, No.2 Po Yan Street,
    Sheung Wan, Hong Kong.

    kami juga masih menyimpan surat dari wimo, kalau gita masih mau baca, akan kami kirimkan ke email gita..
    terimakasih banyak ya..

  4. tomi says:

    maap ada salah ketik:
    kamu hanya menjalankan apa yang sudah menjadi kewajiban kami..
    mestinya:
    kami hanya menjalankan apa yang sudah menjadi kewajiban kami..

  5. tomi says:

    gita, saya selain main kamera lomography..
    juga main toy camera loh!!

    anak-anak lomonesia lainnya juga banyak kok yg main juga..
    jadi ga melulu pakai kamera lomography kok..

    yuk yuk… mari kita bermain bersama..

    make photo, not war..

    • brigitta isabella says:

      hai tommy! aku ngerti kok itu kewajiban kalian, kalian udah ngulang itu berkali-kali. emang di tulisanku aku menyerang dan mempertanyakan “kewajiban” kalian itu, maksudnya..ya hebat aja dan salut sama orang2 lomonesia yang mau menjalankan kewajibannya untuk jadi officialnya lomography tanpa dibayar dan, eh udah ngejalanin kewajiban dengan baik malah semakin banyak larangan dan keribetan2. yah waktu itu sih ada salah satu official yang bilang kalo kalian ngelakuin ini semua demi agar kamera lomo bisa terus diimpor ke indo, gak di banned, dan semua orang bisa pake kamera lomo…wah mulia sekali??
      padahal kalo niat kalian emang “cuma” semulia itu, temen2 di kaskus juga punya stok kamera lomo/toy camera yang banyak dan harganya bisa jauh lebih murah daripada harga kamera di lomonesia yang kok kayaknya terus melambung ya?

      anw, aku juga udah “beyond” banget sama masalah ini. mungkin kalo kalian liat, ini artikelnya udah bulan apa kan..aku dan temen2ku udah gak pernah mempermasalahkan/ngungkit2 lagi kok (eh sekarang kalian malah ngungkit2:-)..gak ada gunanya..kita juga gak putus hubungan sama temen2 lomo di jogja, atau bahkan kalo anak2 lomo jakarta/sby ke jogja mereka masih nyarinya kita loh. pertemanan jauh lebih penting daripada urusan merek dagang ini. dan karya juga lebih menarik diperbicangkan daripada cuma ngurusin hak patennya orang yang makin lama makin kaya sementara kita terus kena larang2 ga mutu :)

      thanks ya tom, i appriciate you. sukses terus bisnisnya :)

      making love is much more fun than making photographs, anyway :P

  6. tomi says:

    iya maap, saya baru dapat artikel ini terlambat sekali..
    bukan mengungkit kok, cuma untuk meluruskan kesalahpahaman..
    karena awal saya dan gloria mendirikan ‘society’, bukan dengan alasan bisnis, tapi untuk mencari teman sebanyak mungkin..
    dan ada perbedaan yang jelas diantara society dan bisnis..

    :), saya pikir gita masih belum jelas betul tentang permasalahan sebenarnya yang terjadi tahun lalu ya..
    ya sudah gapapa, kita terima saja..
    terimakasih banyak..

    tomi
    :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s