stiker kota : cetak urban yang lengket di hati

kover buku stiker kotaKalau anda mengalami rasanya jadi remaja di tahun 70-80an, pasti anda sempat merasakan asiknya membeli atau sekedar melihat stiker-stiker macam figur bayi gendut dengan tulisan “no problem”, figur Bung Karno dengan tulisan ‘go to hell with your aid” atau stiker-stiker teks lucu yang tertempel di angkot seperti “hari ini bayar besok gratis” dan “yang cakep duduk di sebelah pak sopir”. Stiker-stiker inilah yang disebut sebagai stiker kota, sebuah fenomena budaya urban yang belum banyak dikaji sebagai sebuah kebudayaan massa.

Tahun 2008, Divisi Penelitian dan Pengembangan ruangrupa, lembaga seni rupa kontemporer yang berbasis di Jakarta menerbitkan sebuah buku berjudul “Stiker Kota” yang mencoba mengkaji fenomena stiker-stiker kota yang bertebaran dimana-mana ini. Penelitian tentang stiker kota sebetulnya sudah sempat muncul sekilas dalam jurnal Karbon edisi ke 2 yang juga diterbitkan oleh ruangrupa. Dalam jurnal tersebut selain stiker, barang-barang cetakan lainnya juga dikaji namun tidak secara menyeluruh. Selama delapan tahun itulah, ruangrupa mengoleksi ribuan stiker (setidaknya ada sekitar 5000 stiker koleksi ruangrupa) dan meneliti lebih mendalam kisah tentang stiker kota ini.

Penelitian ruangrupa membawa mereka ke sebuah desa di Malang bernama Pakisaji.  Adalah sebuah perusahaan kecil bernama AMP (Adi Mas Putra) yang memproduksi dan menyebarkan stiker-stiker tersebut ke kota-kota besar macam Jakarta, Bandung dan Surabaya. Nama AMP secara jelas paling banyak tercantum di stiker kota baik yang baru maupun yang lama. Informasi ini cukup mengejutkan karena bagaimana mungkin stiker-stiker yang para peneliti sebut “kota” ternyata diproduksi di desa dengan pemandangan tipikal, rumah sederhana dan hamparan sawah. Kenyataan ini dibaca oleh para peneliti sebagai sebuah isyarat adanya imajinasi akan kota dan akhirnya menyeret kita pada permasalahan identitas manusia urban dan perubahan kultur secara umum.

Persoalan-persoalan menarik ini sayangnya hanya dibahas sekilas oleh para peneliti. Buku yang tebalnya kurang lebih 300 hlm hanya memuat “semacam pengantar” sebanyak 30hlm, sisanya ialah gambar-gambar stiker kota sejak tahun 70an (jangan tanya sampai rentang tahun berapa karena tidak tercantum di buku ini). Dalam 30hlm tersebut, para peneliti juga belum bisa memuaskan pembacanya, atau setidaknya memuaskan saya. Saat menceritakan awal mula stiker kota  muncul, peneliti hanya mampu memberikan asumsi dari seorang teman yang ingat bahwa ia pernah memiliki stiker Soekarno di Jakarta tahun 1971. Bagaimana mungkin sebuah buku yang ilmiah (atau setidaknya pura-pura ilmiah) bisa mencantumkan argumen awal mula munculnya stiker (yang tentu saja sangat penting) hanya dari ingatan seorang kawan, yang jangan-jangan bisa jadi hanya karangan? Siapa yang tahu?

Antariksa, pegiat cultural studies asal yogyakarta, dalam sebuah diskusi tentang buku ini memaparkan asumsinya yang lain, yang lebih ilmiah saya rasa, bahwa stiker kota muncul seiring dengan kehadiran teknik sablon di Indonesia. Stiker-stiker tahun 70an memang masih hanya menggunakan teknik sablon yang sederhana, sehingga asumsi tersebut bisa jadi benar. Unsur teknik dalam proses pembuatan stiker adalah salah satu yang luput dalam paparan tekstual buku ini. Pendekatan historis saya rasa akan membuat buku ini menjadi lebih berisi.

Stiker-stiker yang dimuat di buku ini kurang lebih ada 2400 gambar, dan diklasifikasi berdasarkan temanya, antara lain:  stiker Islam, Katolik, stiker klasik, Slank, Iwan Fals, Soekarno, perlawanan, kedaerahan, sepak bola dan masih ada beberapa klasifikasi lain. Saya sadari tentu pasti sulit mengklasifikasi stiker-stiker yang jumlahnya ribuan ini ke dalam beberapa tema saja. Namun yang saya sayangkan, klasifikasi tersebut tidak menyantumkan tahun stiker itu muncul dan beredar. Ketika kesimpulan buku ini ialah tentang masyarakat kota yang terus berubah, bagaimana cara saya membaca gejala tersebut jika tidak disertakan waktu beredarnya stiker itu? Satu lagi, tidak ada potret fenomena stiker partai disini, yang padahal menurut saya cukup perlu digarisbawahi karena kehadiran stiker partai juga merupakan suatu penanda reformasi di Indonesia. Selain itu, repro gambar stiker-stiker juga tidak disesuaikan dengan skala aslinya. Stiker macan yang sebetulnya besar dan biasa ditempel di kaca belakang angkot terlihat kecil dan kurang ‘menggigit’ di buku ini. Dalam pembelaannya saat diskusi buku, Ugeng sebagai wakil dari ruangrupa mengatakan bahwa sebetulnya ia sudah menuliskan ukuran semua stiker di belakang stikernya dalam ukuran sentimeter, namun saat penyettingan buku ternyata sulit untuk menambahkan ukuran tersebut. Kesimpulan saya para peneliti sepertinya memang malas, tidak ada waktu atau dikejar deadline :)

Buku ini  saya liat hanya sebagai sebuah usaha dokumentasi atas fenomena yang selalu berubah, stiker kota yang terus diproduksi dan terus dikonsumsi oleh masyarakat yang juga terus berubah. Buku yang sangat menarik karena mengangkat objek yang termarjinalkan (walaupun dikonsumsi secara massal) namun sayangnya belum dikaji secara serius. Bagaimanapun di luar sana stiker kota terus bertambah, berubah dan tetap lengket di hati kita, meminta orang yang peduli untuk terus mengkajinya.

Advertisements

2 Comments on “stiker kota : cetak urban yang lengket di hati”

  1. Ardi Yunanto says:

    Jika Anda membaca lebih jauh, di buku itu disebutkan semacam sejarah kecil stiker kota. Tidak disebutkan secara jelas tentang hubungannya dengan munculnya teknik sablon, karena Pak Kusnadi sendiri–AMP Production–sebelumnya bekerja di pabrik stiker untuk badan motor, sebelum 1974, kisaran waktu di mana teknik sablon ada di Indonesia. Tidak disebutkan unsur teknis terlalu jauh karena buku ini memang tidak bertujuan menjelaskan soal teknis sablon tersebut.

    Jika Anda membaca pengantarnya, jelas sekali bahwa ini memang buku pengantar yang berguna untuk mengajak para peneliti lain menelitinya lebih jauh–satu hal yang tak pernah dilakukan selama ini bahkan oleh akademi desain grafis dan seni rupa. Ini adalah dokumentasi yang “merekam sementara” perubahan-perubahan yang mungkin ada.

    Stiker partai tidak dimasukkan karena sudah jelas maksudnya apa, untuk propaganda, dan tidak menyimpan hasrat kekotaan sama sekali, bahkan seperti stiker musik, bola, sekalipun untuk dijual oleh para produsennya, tetap memiliki hubungan yang lebih kuat daripada sekadar partai.

    Tidak adanya tahun pembuatan stiker, karena tidak ada data sama sekali dari produsen tentang itu. Semua hanya kisaran, dan barang lama terus diproduksi sampai sekarang.

    Selebihnya, anggaplah itu sebagai kekurangan.
    Semoga ada penelitian lebih lanjut dan mendalam tentang ini dari pihak-pihak lain yang sebenarnya lebih berhak secara akademis.

    Salam,

  2. brigitta isabella says:

    Tentu saja saya membaca buku tersebut lebih jauh. Yang saya maksud dengan kenapa teknik sablon bisa menjadi penting, karena dengan demikian kita bisa mengetahui (walaupun masih mengira-ngira) kapan stiker tersebut pertama kali diproduksi; bukannya sekedar menjadikan “ingatan seorang teman” sebagai sebuah referensi buku.

    Mengenai stiker partai, mungkin bagi anda tidak menyimpan hasrat kekotaan sama sekali. Tapi pendapat saya pribadi, stiker partai adalah fenomena yang menarik. Sejak kapan kemunculan stiker partai, apakah terjadi pergeseran fungsi stiker, saya pikir ini juga dapat menjadi suatu trigger untuk penelitian lebih lanjut. Apalagi kemunculan stiker tersebut menjadi salah satu penanda reformasi di Indonesia.

    Dan, jika anda membaca tulisan saya lebih jauh, anda tidak perlu mengatakan “jika anda membaca pengantarnya…” karena hal tersebut sudah saya sadari benar dalam paragraf terakhir.

    Yang pasti, saya juga sangat menantikan adanya penelitian lebih lanjut terhadap fenomena stiker kota yang sangat seru ini :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s