Archive for the ‘Uncategorized’ Category

louvre in veil
November 26, 2009
Wimo Film and Video Festival
October 23, 2009
Tulisan ini merupakan pengantar untuk acara Wimo Film and Video Festival di Kedai Kebun Forum tanggal 28-30 Oktober 2009.
Mungkin agak terlambat, ketika Kedai Kebun mengadakan acara Wimo Film and Video Festival sebagai salah satu manifes program do it yourself festival-nya. Pasalnya, Wimo sendiri sebetulnya aktif membuat karya-karya videonya pada tahun 2000-2007. Saat ini Wimo sedang asyik bermain-main kembali ke roots-nya yaitu fotografi. Ketika di tahun 2000-an ia menggunakan medium video pun, itu disebabkan karena kondisi ekonomi yang lebih efisien dan ekonomis bagi seorang mahasiswa yang tak kunjung jua lulus di ISI. Fotografi sebagai sebuah hobi maupun profesi memang membutuhkan dana yang lebih besar. Sementara dengan medium video, bermodal handycam dan satu buah kaset mini DV, ia bisa merealisasikan lebih banyak ide yang carut marut di kepalanya.
Dengan dasar pendidikan fotografinya, Wimo membuat karya-karya video yang tidak jauh berbeda karakternya dengan karya-karya fotonya. Ciri khas karyanya selalu humoris, metaforik dan mengangkat hal-hal yang mikroskopik dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja dengan kamera video, Wimo banyak mengeksplor teknik editing dan berinteraksi dengan subjek-subjek yang ia rekam.
Kedekatan Wimo dengan kamera video tidak bisa dilepaskan dengan sejarah perkembangan video sendiri di Indonesia. Menurut data sejarah, perkenalan bangsa Indonesia dengan video bermula pada tahun 1962 ketika stasiun televisi pertama TVRI didirikan bersamaan dengan proyek Asean Games IV. Namun, berbeda dengan kemunculan televisi di Eropa dan Amerika yang menyebabkan munculnya gerakan seni pop art, fluxus dan video art sebagai kritik terhadap dominasi media, selama berpuluh-puluh tahun TVRI tetap mendominasi dan menciptakan persepsi kekuasan tunggal pada era Orde Baru. Bahkan pada masa itu, video sempat dianggap sebagai sebuah ancaman bagi kestabilan nasional karena efeknya yang dianggap mampu merusak moral bangsa dan menimbulkan konsumerisme (lebih lanjut lihat penelitian Forum Lenteng dalam VIDEOBASE, 2009.) Barulah pada tahun 1999-2000, tak lama setelah keruntuhan Orde Baru, arus informasi global menderas disertai dengan perkembangan teknologi seperti internet, SMS dan video. Wimo menjadi salah satu seniman muda yang mulai menggunakan video sebagai alat berekspresinya seperti misalnya, Prilla Tania dan Ariani Darmawan di Bandung atau kawan-kawan ruangrupa di Jakarta.
Dengan demikian walau di awal tulisan ini saya katakan agak terlambat ketika mengadakan Wimo Film and Video Festival, sebagai layaknya karya seni yang baik, video-video yang diproduksi Wimo masih sangat kontekstual untuk dibicarakan saat ini.

Fotografi Tempo Doeloe dan Memori Kolektif Kita
September 24, 2009Selintas Fotografi Era Kolonial
“Saya seringkali berharap bahwa saya memiliki mesin foto dan dapat mengambil gambar rakyat kami—sebagaimana hanya saya yang dapat melakukannya, dan bukan Eropa. Ada begitu banyak hal yang ingin saya jadikan kata-kata dan gambar-gambar, agar orang Eropa dapat memperoleh gambaran murni tentang kami orang-orang Jawa.”
Kalimat tersebut keluar dari mulut seorang puteri sejati seorang aristrokat dan pegawai Jawa, sang ikon emansipasi perempuan di negeri kita yakni Raden Ajeng Kartini pada tahun 1900. Dalam surat-suratnya yang terkumpul dalam Dari Gelap Terbitlah Terang kita dapat membayangkan bagaimana kekaguman seorang Kartini muda terhadap mesin kamera yang pada masa itu merupakan sebuah teknologi mutakhir. Dari kutipan kalimat di atas, tampak pula kesadaran Kartini akan kemampuan fotografi dalam menciptakan citra-citra, sehingga ia menganggap bahwa jika ia memotret rakyatnya, ia akan menghasilkan sebuah “gambaran murni” tentang orang Jawa, bukan citraan lain yang mungkin dihasilkan oleh orang Eropa.
Pada masa yang tak jauh berbeda, Kassian Chepas (1845-1912), menurut sumber-sumber sejarah disinyalir sebagai orang pribumi pertama yang bisa menggunakan kamera foto. Cephas mulai belajar menjadi seorang fotografer profesional pada tahun 1860-an. Ia bekerja di Keraton Yogyakarta pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII dan foto-fotonya tentu saja kebanyakan merupakan gambaran kehidupan para bangsawan di balik tembok Keraton. Hasil foto Cephas hanya merekam keindahan dan keagungan raja-raja Jawa sehingga yang tampil hanyalah ilusi-ilusi eksotisme bagi pemerintah Belanda yang kala itu merupakan kolektor foto-foto Chepas, bukan kenyataan bahwa pada masa itu rakyat Indonesia sedang mengalami penjajahan.

Raja Jawa oleh Kassian Chepas

Seorang puteri Jawa berpose di studio oleh Kassian Chepas
Foto-foto di era kolonial, menurut Jean Gelman Taylor merupakan sebuah “rekaman visual yang terencana dan penuh kelicikan”. Hal ini disebabkan karena pada masa itu, berfoto merupakan sebuah hal yang eksklusif dan hanya bisa dilakukan oleh para bangsawan atau orang Belanda saja untuk menunjukkan status sosialnya. Foto-foto ini tidak mengabadikan saat-saat bersejarah dalam kehidupan Hindia Belanda pada masa itu tapi merupakan kejadian-kejaian yang terkoreografi yang memiliki kesan seremonial karena pada masa itu diperlukan waktu yang cukup lama untuk mengambil sebuah foto. Dari foto-foto pada era ini, kita akan melihat citra pribadi-pribadi, namun bukan saat-saat pribadi. Foto-foto ini menunjukan pandangan-pandangan modern atas apa yang dianggap baik dan kaya pada masa itu dari analisis atas pose maupun kostum yang dikenakan saat berfoto.

Seorang perempuan belanda berpose di ruang tamunya pada tahun 1939, fotografer tidak diketahui
Adalah H.F Tillema, seorang apoteker, pengusaha air minum kemasan, etnolog amatir dan petualang sejati yang membuat foto-foto yang berbeda dari kebanyakan foto yang ada pada masanya. Tillema dijuluki sebagai “The Multatuli of Photography”, hal ini disebabkan karena foto-fotonya dianggap menyebarkan humanisme yang mungkin pada masa itu, agak ketinggalan jaman. Berbeda dengan rekan-rekannya yang memotret keindahan pemandangan di tanah jajahan, Tillema memilih untuk memotret sisi lain dari rakyat di negeri jajahannya. Jika teman-temannya memotret kecantikan puteri-puteri keraton Jawa, Tillema merekam bocah cacingan yang sedang buang air. Jika teman-temannya memotret penari bali yang sedang berpose anggun, maka Tillema memotret penari cilik dari Bali yang menderita kusta. Ada yang menganggap bahwa yang dilakukan Tillema adalah sebuah usaha humanisme untuk menunjukan apda pemerintah Belanda tentang keadaan sesungguhnya di negeri jajahannya. Namun ada juga yang menyangka bahwa yang dilakukan Tillema sebenarnya adalah sebuah penelitian yang terangkum dalam buku cara hidup bagi orang Belanda yang tinggal di Hindia Belanda berjudul Kromoblanda (1922). Bisa jadi, Tillema ingin menunjukkan keprimitifan cara hidup kaum pribumi sehingga justru membimbing opini kaum Belanda untuk lebih berhati-hati dalam berhubungan dengan kaum pribumi dengan alasan kesehatan.

Bocah sedang buang air oleh H.F. Tillema
Kisah heroik fotografi Indonesia muncul pada masa detik-detik sebelum proklamasi. Frans dan Alex Mendur (lebih sering disebut sebagai Mendur bersaudara) adalah fotografer yang layak dianggap sebagai pejuang proklamasi. Lewat rekaman fotografisnya menggunakan kamera Leica, mereka merekam detik-detik proklamasi sampai harus mempertaruhkan nyawanya. Ketika mereka mengabadikan perisitiwa bersejarah itu dan ingin menyebarkannya di koran-koran nasionalis, tentara Jepang mengejar mereka untuk mendapatkan negatif foto-foto tersebut agar berita proklamasi kemerdekaan tidak tersebar di seluruh Indonesia. Mendur bersaudara harus lari dan menanam negatif tersebut di bawah pohon kantor harian Asia Raya sehingga dapat mengibuli tentara Jepang. Foto tersebut baru bisa naik cetak enam bulan sesudah peristiwa proklamasi yakni tanggal 17 februari 1946, dan akhirnya sampai saat ini berkat jasa Mendur bersaudara, foto Presiden Soekarno membacakan teks proklamasi bisa kita lihat di buku-buku sejarah kita.

Pengibaran bendera saat proklamasi kemerdekaan oleh Mendur Bersaudara
Memori Kolektif: Yang Ditampilkan dan yang Disembunyikan
Citraan dua dimensi yang dibekukan oleh kamera dapat membentuk suatu memori kolektif. Memori adalah hal yang penting dalam kehidupan manusia, sebab masa lalu turut membangun apa yang terjadi di masa ini dan masa depan. Memori kolektif merupakan sesuatu yang ada dalam memori bersama suatu masyarakat tertentu, ada yang hidup dan ada yang terhambat (collective occlusion). Dalam pemrosesan informasi sampai menjadi memori yang termodifikasi dengan rapi dalam pikiran-faktor individu dan lingkungan ikut berperan serta, sehingga terdapat memori yang diajarkan (learned memory) dan memori yang hidup (lived memory).
Pelajaran sejarah yang kita dapatkan di sekolah adalah sebuah memori kolektif. Walau begitu, memori kolektif kebenarannya tidaklah absolut. Perdebatan antara kebenaran memori kolektif dan memori individu adalah perdebatan yang panjang dalam wacana sejarah. Memori kolektif bisa jadi sebuah usaha politik untuk mengklaim sebuah kebenaran oleh penguasa pada masa itu. Contoh yang paling mudah adalah kisah pembunuhan tujuh jenderal Angkatan Darat pada tanggal 30 September yang selama pemerintahan Orde Baru kita anggap sebagai kekejaman PKI. Setalah Orde Baru runtuh, muncul banyak versi lain dari peristiwa G30S.
Pada kasus fotografi era kolonial, kita harus kritis menyadari bahwa gambar-gambar yang direkam oleh fotografer pada masa itu adalah citraan-citraan. Bukan berarti lantas foto-foto tersebut tidak dapat menjadi sumber sejarah yang valid. Dari foto-foto tersebut, dengan mempelajari konteksnya kita dapat memahami pandangan-pandangan para fotografer atau subjek yang dipotret tentang kelas, modernitas atau nasionalisme. Fotografi tempo doeloe adalah bagian dari memori kolektif kita tentang sejarah bangsa. Yang perlu kita ingat, fotografi adalah sebuah proses pembingkaian suatu objek yang difokuskan dan pengeliminasian yang lainnya. Ketika kita melihat yang ditampakkan, kita tidak boleh letih mencari apa yang disembunyikan. Sejarah tidak absolut, karena kita adalah sejarah.
Referensi:
Juliastuti, Nuraini. Kassian Cephas Hanya Membuat Foto-foto Indah. 1999. (www.kunci.or.id)
Mrazek, Rudolf. Engineers of Happy Land. Jakarta: Penerbit Obor, 2006.
Nordholt, Henk Schule. Outward Appearances. Yogyakarta: LKiS, 2005.
Soerjoatmodjo, Yudhi. Tillema, Multatuli Fotografi. 1994. (www.tempo.co.id)
Waworundeng, Tommy. Perjuangan Alex dan Frans Mendur Memotret Momen Proklamasi. 2009. (www.mdopost.com)
Foto-foto:

scrabble
September 21, 2009


it’s me, gogol and the cactus. it sounds good for indie band’s name hehe :)

photobox: relasi absurd mesin dan manusia
September 12, 2009Ber-photobox adalah sebuah hobi hedonis yang saya jalani selama masa SMP dan awal SMA (tahun 2001-2004) saya di Jakarta. Hampir setiap minggu, sebagai bagian dari ritual saya dan teman-teman, kami jalan-jalan ke mal, makan murah di food court dan akhirnya ditutup dengan ber-photobox ria. Saking seringnya saya dan teman-teman ber-photobox, saya sampai punya beberapa album mini yang isinya hasil foto-foto kami yang sampai sekarang masih saya simpan dengan baik.
Ketika saya melewati masa-masa “remaja” itu, dan seiring dengan kehadiran kamera digital yang baru populer di kalangan saya sekitar pertengahan 2007, kebiasaan ber-photobox mulai luntur. Selain harganya cukup mahal, sekitar Rp 20.000 per “session”, kami lebih memilih merekam kejadian-kejadian penting-nggak penting dengan kamera digital yang bisa langsung di-tag di facebook (it’s a guilty pleasure, anyway:) Mesin Photobox pun kami tinggalkan, walau sesekali, saat reunian, rasa iseng dan rindu akan romantisme bodoh-bodohan bergaya di kotak foto itu masih kami lakukan.
Mengingat kembali masa-masa kejayaan mesin photobox, dan setelah membaca-baca beberapa teori-teori fotografi yang menyangkut relasi antara subjek-yang memotret dan subjek-yang dipotret, muncul pertanyaan-pertanyaan tentang esensi dari photobox.
Ada banyak wacana mengenai relasi antara subjek-yang memotret dan subjek yang dipotret, seperti misalnya, Tubagus P. Svarajati dalam sebuah artikel lepas berjudul “Fotografi dalam Eksistensialisme Sartre” menyebutkan bahwa hubungan antara keduanya adalah sebuah hubungan yang kompleks. Di satu sisi ia memandang bahwa relasi antara subjek-yang memotret dan subjek-yang dipotret merupakan sebuah relasi yang tidak setara. Ketika sang fotografer membidik, memilah dan membingkai subjek-yang difoto sesungguhnya ia telah mengeliminasi realitas untuk menjadikannya sesuai citra yang diinginkannya. Jelas, ini artinya ia telah mengobjektivikasi subjek yang difotonya.
Dalam hubungan subjek-objek yang saling mengalahkan ini, sesungguhnya objek foto pun (dalam hal ini tentu saja, manusia) merupakan persona bebas yang menyadari eksistensinya. Sebagai subjek bagi dirinya sendiri, ia dapat merebut kembali eksistensinya melalui kesadaran. Ketika sebuah objek menyadari bahwa ia sedang difoto, ia tidak lagi dikendalikan oleh sang fotografer melainkan justru ia dapat mengobjektifikasi sang fotografer dengan mengendalikan gerakan/bidikan sang fotografer sesuai gerakan tubuhnya sendiri. Menurut Sartre, relasi kompleks ini didasari oleh hubungan konflikal antar manusia.
Saya pikir relasi tersebut cukup jelas sampai disini. Tapi dalam hal aktivitas ber-photobox, kita tidak bisa mengimplementasikan relasi subjek-yang memotret dan subjek-yang dipotret sebagaimana yang disebut oleh Tubagus. Dalam aktivitas berfoto dengan menggunakan mesin photobox, subjek-yang memotret merupakan sekaligus subjek-yang dipotret. Hal ini mungkin mirip dengan perilaku self portrait dengan menggunakan timer dan tripod. Namun, jika dalam menggunakan timer dan tripod subyek yang memotret dan dipotret masih bisa mengatur pencahayaan, latar belakang dan komposisi foto, maka dalam kasus ber-photobox hal ini sedikit berbeda. Mesin photobox memiliki angle kamera yang sudah diatur dan tidak bisa diubah, demikian pula dengan pencahayaannya yang selalu sama. Ruang di dalam photobox pun selalu sama, sebuah ruang berukuran tidak lebih dari 1×1 m. Latar belakang foto biasanya hanya disediakan dalam beberapa pilihan warna dasar seperti biru dan merah. Mesin photobox memiliki beberapa otoritas yang tidak dapat diganggu gugat, dan ia mengarahkan sang subjek-yang dipotret (memberi batasan) dalam beberapa hal layaknya sang subjek-yang memotret.
Tapi yang menarik, dalam proses berfoto di dalam mesin photobox, subjek-yang dipotret dapat melihat dirinya langsung sebelum dan saat mesin photobox merekam gambar. Ini adalah sebuah proses yang tidak dimiliki dalam hubungan memotret dan dipotret maupun proses self portrait dengan tripod dan timer. Artinya, dalam proses pemotretan dengan mesin photobox, sang subjek-yang dipotret memiliki kontrol penuh terhadap kesadaran raut wajahnya saat dipotret.
Kontrol dan dominasi lebih yang dimiliki manusia terhadap mesin ini menunjukkan keterbalikan dengan relasi yang ditunjukkan Tubagus antara subjek-yang memotret dan subjek-yang dipotret dari kacamata eksistensialisme Sartre. Inilah yang mungkin, bisa jadi merupakan sebuah alasan mengapa saya dan teman-teman saya selama beberapa tahun sempat menjadi “pegiat photobox”. Kami mendapatkan kontrol penuh untuk memuaskan rasa narsisme kami dengan bergaya dalam mesin photobox.

Safari yang Memanipulasi Imajinasi
August 9, 2009
Tulisan ini merupakan catatan pengantar pameran fotografi Agan Harahap di Mes56 tanggal 7-31 Agustus 2009.
Apa yang akan anda lakukan jika tiba-tiba, saat sedang sembunyi-sembuyi membuka situs facebook di kantor, ada seekor komodo yang sedang mencari mangsa, tepat di belakang punggung anda? Atau bagaimana reaksi anda jika saat sedang asik menyantap Big Mac di McDonald, anda melihat seekor dinosaurus yang sedang membuka mulutnya lebar-lebar? Apa pula yang akan anda katakan, saat sehabis berbelanja seharian di mal dan menuju parkiran, ada seekor beruang yang tengah mendekati mobil anda?
Saya rasa, jika anda tidak berprofesi sebagai penjinak binatang, anda akan mengucek-ngucek mata dengan heran, berteriak atau malah lari terbirit-birit. Bisa juga, anda malah mengira sedang dikerjain di sebuah acara televisi.
Itulah yang saya bayangkan, seandainya saja foto-foto Agan Harahap dalam seri foto “SAFARI” menjadi kenyataan. Saya—dan mungkin juga anda– sebagai orang yang sudah terbiasa hidup di kota, tentu akan merasa aneh karena sebelumnya hanya terbiasa melihat anjing atau kucing berkeliaran di jalanan. Kalaupun ada binatang lain, paling-paling hanya kecoa, tikus atau laba-laba; binatang-binatang yang ukurannya bisa saya atasi hanya dengan menginjaknya. Apa jadinya kalau tiba-tiba ada gajah, komodo, harimau dan binatang-binatang buas lainnya yang gantian menginjak kita? Aduh, saya jadi ingat film Jumanji dimana kota tempat tinggal Robin Williams jadi amburadul gara-gara kehadiran binatang-binatang buas dari papan permainan ajaib itu.
Foto-foto yang Agan tawarkan memang memacu pikiran kita untuk berfantasi. Dengan teknik olah imaji (digital imaging), saya pikir kemampuan Agan yang perlu diancungi jempol bukan hanya dalam hal memanfaatkan software Photoshop saja. Melalui medium yang memang dia terbiasa dan kuasai, ia juga mampu mengolah imajinasinya dengan sangat menawan. Pikirannya bisa melanglang buana, memikirkan apa yang tidak sempat orang lain pikirkan. Perhatikan saja beberapa foto yang biasa ia unggah di deviantart atau flickr. Ada perempuan berkepala gurita, sekumpulan manusia yang berlomba menunggangi hewan aneh semacam ulat, atau sepasang kekasih dengan masker ala bomber. Hibrid, satu kata yang bisa saya bayangkan untuk karya-karyanya.
Agan sehari-hari bekerja sebagai fotografer untuk majalah Trax sejak tahun 2006. Dalam halaman-halaman majalah musik ini, kita bisa melihat kepiawaian Agan dalam bidangnya. Latar belakangnya sebagai mahasiswa desain grafis membuat ia memperlakukan medium fotografi secara berbeda. Ia tidak pernah membiarkan hasil fotonya mentah, selalu saja ada “tangan-tangan usil” yang membuat fotonya berwarna unik atau bahkan manipulasi yang sama sekali jauh berbeda dengan realitasnya. Sebagai fotografer majalah musik, Agan memiliki akses untuk dapat memotret artis ternama atau model-model cantik. Ia juga bebas berkreasi dengan kostum-kostum unik dan cahaya artifisial. Dia menjadikan modelnya sebagai boneka yang bisa ia atur seenaknya dengan pemaknaan yang ia inginkan. Dia tidak punya masalah dengan momentum atau cuaca mendung layaknya seorang jurnalis. Tidak puas sampai disana, wajah model-model tersebut tak jarang masih juga ia “ganggu” dengan proses digital imaging. Saya masih ingat karya Agan yang memanipulasi wajah Cathy Sharon, Glen Fredly, dan Eno “Netral” sehingga tampak seperti lansia, sangat lucu dan cerdas.
Menurut saya Agan berhasil memanipulasi imajinasi kita melalui foto-fotonya. Kalau boleh saya analogikan, karya Agan itu seperti film Transformers, kita sadar bahwa film itu fiksi, tapi sepanjang film kita seperti terbawa dalam alur cerita yang semuanya jadi terasa rasional. Bahkan sepulang dari bioskop, kita bisa-bisanya membayangkan motor kita bisa bicara seperti Bumlebee. Naluri kita untuk berimajinasi seperti diajak untuk bermain-main saat melihat karya-karya foto Agan.
Walau begitu, Agan mengaku sempat bosan dengan pekerjaannya. Di sela-sela kejenuhannya memotret model-model cantik (“Apalah arti kecantikan duniawi,” begitu kata Agan J), ia iseng-iseng memotret teman-teman kantornya. Dengan keahliannya menggunakan photoshop, munculah gajah di pintu kantor dan komodo di belakang punggung seorang rekan kerja yang sedang main komputer. Setelah melihat hasilnya, Agan menemukan kesenangan baru dalam mengkolase stok fotonya dengan gambar-gambar binatang. Dari sinilah muncul seri foto “SAFARI” yang kini berada di hadapan anda.
Proses kreatif Agan tidak berhenti sampai disana saja. Dari sekadar menempelkan foto-foto binatang ke dalam stok foto yang dimiliki, ia mulai menyadari bahwa perilakunya ini bisa jadi berarti. Yang dilakukan Agan akhirnya tidak sekadar sebuah proyek iseng-iseng ketika ia menjukstaposisikan gambar binatang ke ruang dan waktu yang berbeda. Kali ini ia telah memproduksi makna baru dengan mengkonstruksi ulang gambar-gambar tersebut. Lantas makna apa yang ada di dalamnya? Saya sarankan untuk membiarkan imajinasi kitalah yang bebas menginterpretasikannya. Kini saatnya kita yang berkreasi. Saya sendiri cukup senang ketika melihat foto-foto Agan, imajinasi saya semakin liar saat sedang duduk termenung di depan laptop. Hey, awas, ada binatang apa di belakangmu?!!***
(Untuk gambar-gambar dari foto Agan yang dipamerkan silahkan klik disini)

PERCAKAPAN ANTARA MI INSTAN DAN BURGER: Warung Burjo yang Mengadopsi Prinsip McDonald
August 9, 2009Bagi anda yang pernah tinggal atau kuliah di Jogja, pasti pernah mampir ke warung burjo. Kalau ternyata secara ekstrim anda alergi biji-bijian, kopi, teh, rokok dan mi instan, saya tetap percaya, pasti setidaknya anda tahu apa gerangan yang namanya burjo itu. Menurut pengamatan kecil-kecilan yang saya lakukan pada bulan Juli 2009, setidaknya ada sekitar 17 warung burjo di sepanjang Jalan Kaliurang Km1-15, atau dari pusat kampus UGM sampai kampus UII.[1] Tujuh belas warung burjo tersebut barulah warung yang yang ada di jalan utama, saya belum menghitung jumlah warung burjo yang ada di gang-gang kecil di Jalan Kaliurang yang pasti ada lebih banyak lagi. Jika dirata-rata dari data diatas, setidaknya setiap 1 km ada satu warung burjo yang buka 24 jam. Jumlah ini bisa dibilang sangat banyak mengingat sebetulnya warung burjo menjual varian makanan dan minuman yang sama.
Dari fakta di atas, muncul banyak pertanyaan yang iseng-iseng berkelana di kepala. Misalnya, sejak kapan warung burjo ada di Jogja atau mengapa penjual burjo kebanyakan berasal dari Kuningan, Jawa Barat? Jawaban-jawaban atas rasa penasaran tersebut sedikit banyak terjawab dalam buku “Mengawetkan Pengalaman: Dinamika Warung Bubur Kacang Hijau dalam Tulisan”[2].
Lebih lanjut, pengamatan saya terhadap warung burjo lebih menekankan pada prinsip-prinsip apa yang digunakan warung burjo dalam menjalankan usahanya. Saya mencoba membandingkan kesamaan-kesamaan yang saya temukan antara warung burjo dengan McDonald. Kenapa McDonald? Warung burjo mungkin terlihat sederhana. Tapi coba kita lihat, warung burjo tersebar di penjuru Jogja dalam jumlah yang banyak, semuanya memiliki spanduk “Indomie” yang kebanyakan sama dan semuanya juga menjual tipe makanan yang sama. Bukankah ciri-ciri ini mirip dengan ciri-ciri McDonald yang tersebar di seluruh penjuru dunia, memiliki logo lengkungan “M” keemasan yang selalu sama di seluruh dunia dengan rasa burger yang tidak jauh beda antara di Jakarta dengan di Los Angeles?
George Ritzer dalam The McDonaldization of Society banyak bicara mengenai bagaimana sistem kerja McDonald merasuk pada pola hidup masyarakat. Efisiensi, ketepatan daya hitung, daya prediksi dan kontrol pekerja adalah prinsip-prinsip dasar dalam manajemen ilmiah McDonald yang oleh Ritzer disebut sebagai McDonaldization atau McDonalidisasi. Walau begitu, McDonald sesungguhnya hanyalah ikon puncak dari proses rasionalisasi yang berlangsung sepanjang perjalanan abad ke 20. Lebih jauh, praktik McDonaldisasi membuat perubahan paradigma masyarakat tentang modernitas. Keinstanan, kecepatan dan ketepatan adalah nilai-nilai yang dianggap sebagai bentuk ideal manusia modern. Nilai-nilai rasional ini ternyata menghasilkan irasionalitas atas rasionalitas itu sendiri. Disini Ritzer mengritik sistem McDonaldisasi dimana masyarakat yang terasionalisasi akhirnya tidak lebih hanya akan menjadi robot-robot kapitalisme.
Nama McDonald memang akrab dengan kapitalisme. Kritik terhadap McDonald sudah bukan lagi barang baru di dunia ilmu pengetahuan[3]. Namun dalam tulisan ini, saya tidak akan melancarkan kritik yang sama. Penelitian Ritzer mengenai kritiknya atas prinsip-prinsip yang digunakan oleh McDonald saya coba gunakan sebagai sebuah sudut pandang dalam melihat sistem di warung burjo. Kesamaan apa saja yang ada disana, apa pula perbedaannya?
Prinsip Efisiensi: Mi Instan yang Beyond Instant
Prinsip efisiensi pada McDonaldisasi yang pertama-tama disebut oleh Ritzer nampak jelas dalam wajah warung burjo. Sederhananya, warung burjo menjual makanan dan minuman yang instan yang sebetulnya karena kemudahan penyajiannya sesungguhnya bisa dimasak sendiri di rumah hanya dengan waktu 3 menit, begitu pula dengan minuman yang tinggal diseduh. Ketika mi instan masih dijual di warung, saya bayangkan proses ini adalah beyond instant, artinya lebih instan dari yang instan[4]. Sebuah ide efisien yang bahkan lebih efisien dari akarnya, sang burger McDonald. Di restoran McDonald, prinsip efisiensi itu tampak misalnya dalam promosi McDonald untuk menyajikan makanan dalam waktu kurang dari 3 menit, jika penyajian lebih dari 3 menit, pembeli berhak mendapatkan sebuah es krim cone McDonald. Program drive through, atau membeli makanan dari dalam mobil juga merupakan suatu bentuk prinsip efisiensi yang digembar-gemborkan McDonald dan akhirnya model ini diikuti banyak bisnis lain di dunia. Dalam hal makanan, McDonald juga berinovasi dengan McNugget, daging ayam olahan seperti nugget lebih mudah dimakan daripada ayam yang harus disuwir dahulu.
Prinsip Daya Hitung: Yang Penting Kenyang!
Ritzer juga menyebutkan tentang daya hitung dan daya prediksi dalam proses McDonaldisasi. Daya hitung disini ia artikan tentang ilusi kuantitas yang diciptakan oleh McDonald. Ia memberi contoh dalam penyajian makanan di McDonald. Roti burger McDonald dibuat besar dan empuk, sementara isi burger seperti selada, keju dan saus tomat ditata agar tampak overloaded. Pembeli dibuat percaya bahwa mereka mendapat banyak makanan dengan harga yang murah. Hal ini adalah sebuah ilusi kuantitas untuk mengurangi rasa kritis pembeli terhadap kualitas rasa. Akhirnya, sikap pembeli dalam memilih makanan pun lebih kepada jumlahnya bukan rasanya. Orang tidak pergi ke McDonald untuk mencari masakan lezat, melainkan sekadar mengisi tenaga.
Disini ada kesamaan ciri yang dimiliki produk McDonald dengan mi instan yang dijual di warung burjo. Dari sejarahnya, mi instan mulai memasyarakat di Indonesia pada awal pemerintahan Orde Baru ketika Indonesia mengalami kesulitan bahan pangan (beras) yang cukup berat, sehingga pemerintah memperkenalkan suatu produk pangan baru yakni mi[5]. Dari sini, muncul pula pergeseran tentang definisi “makan”, yang selama ini harus melibatkan unsur nasi. Dengan munculnya produk mi instan, nasi atau bukan nasi lalu tak lagi begitu penting, seperti bergizi atau tidak bergizi tidak lagi begitu dipikirkan, Kepentingan utama makan adalah sejauh praktis, efisien dan kenyang. Ini adalah bagian dari strategi kerja normalisasi tubuh manusia, yakni ketika tubuh dilihat sebagai bagian dari sumber daya manusia yang harus disiplin dan produktif sesuai dengan kaidah-kaidah modernitas yang sesuai dengan prinsip McDonaldisasi.
Prinsip Daya Prediksi: Selalu Sama Setiap Saat
Robin Leidner (via George Ritzer) mengatakan bahwa, “Jantung sukses McDonald adalah keseragaman dan daya prediksi…yang merupakan standar yang tidak bisa ditawar.” Masyarakat yang terasionalisasi cenderung tidak menginginkan adanya kejutan atau hal baru dalam kesehariannya karena hal tersebut bisa jadi tidak efisien dan tidak terjamin kualitasnya. Dengan jaminan daya prediksi yang akurat, artinya rasa burger di Los Angeles, Paris, atau Bandung selalu sama, maka konsumen akan lebih memilih memakan McDonald yang sudah jelas rasanya[6]. Hal ini juga diperkuat dengan bentuk interior dan eksterior restoran McDonald yang selalu serupa di berbagai negara, misalnya pemilihan bentuk kursi dan warna cat.
Tak jauh berbeda dengan warung burjo, walaupun bukan sebuah bisnis waralaba, tampaknya para pengusaha warung burjo menyadari pentingnya aspek daya prediksi dalam menjaring konsumen. Hal ini tampak dari tata interior burjo yang kebanyakan tampak serupa. Untuk burjo berukuran kecil, meja terbuat dari papan tipis yang dibentuk mengitari wilayah sang penjaga burjo dengan mayoritas meja berwarna biru. Di meja itu pula tersedia gorengan dan botol-botol minuman soda seperti coca cola, fanta dan sprite yang nampaknya tidak begitu laku. Kursi di warung burjo kecil merupakan sebuah kursi kayu panjang yang tingginya disesuaikan dengan tinggi meja. Di dinding, berbagai varian minuman instan seperti kopi, susu dan minuman berenergi digantung sehingga memberi warna gradasi yang unik. Ada pula daftar menu yang digantung di salah satu sisi dinding beserta harganya. Perlu diingat bahwa harga semua jenis makanan dan minuman yang dijual di warung burjo manapun rata-rata sama. Tidak begitu berbeda, pada warung burjo yang berukuran besar, bentuk meja dan kursi yang mengitari wilayah sang penjaga warung masih ada di pojokan, namun disekitarnya ada pula meja dan kursi standar biasa yang terbuat dari kayu sederhana. Jangan lupa, pada setiap burjo pasti ada satu televisi yang sepertinya ditujukan untuk menemani para penjaga warung burjo pada jam-jam sepi untuk mengusir rasa kantuk.
Di depan warung, sebagai penanda nama warung, ada spanduk nama burjo dengan font dan keterangan yang sama (jenis makanan yang dijual). Hal ini disebabkan karena hampir semua warung burjo didukung oleh perusahaan Indofood yang merupakan produsen mi instan terbesar di Indonesia.[7] Kesamaan bentuk spanduk, desain interior warung dan rasa mi (karena menggunakan merek mi instan yang sama yakni Indomie) menunjukkan adanya aspek daya prediksi yang diaplikasikan para pedagang burjo. Bentuk tiru meniru ini (karena tidak ada kesepakatan khusus layaknya bisnis waralaba) bisa jadi disebabkan karena pengusaha burjo yang kebanyakan saling kenal dan berasal dari kota yang sama yakni Kuningan. Hal ini–mungkin tanpa disadari–merupakan bentuk pengadopsian nyata dari cara McDonald menjaring konsumennya yakni unsur kepercayaan. Orang-orang yang datang ke warung burjo manapun, sudah tahu menu apa yang dihadirkan dan seperti apa rasa makanan yang akan dihidangkan disana. Seperti yang telah disebutkan diatas, masyarakat yang terasionalisasi lebih menyukai sesuatu yang sudah jelas.
Prinsip Kontrol: Tidak Ada Robot di Warung Burjo
Aspek lain dari McDonaldisasi yang disebutkan oleh Ritzer dalam bukunya adalah aspek kontrol. Disini Ritzer menganalisis gelagat para karyawan McDonald yang tampak seperti robot. Mereka memakai seragam yang sama, bertipe senyum yang sama dan mengucapkan kalimat yang sama. Para karyawan mendapat pelatihan sebelum mulai bekerja, pada pelatihan tersebut mereka diajarkan atau tepatnya disuruh menghapal kalimat-kalimat yang perlu diucapkan saat melayani pelanggan[8]. Lebih detail, mereka juga harus mengatakan hal yang sesuai skrip jika misalnya ada konsumen yang marah atau melakukan tindakan yang tidak pada umumnya. Keramahan yang ditawarkan para karyawan McDonald adalah sebuah bentuk keramahan palsu yang sebetulnya hanya untuk memenuhi kepentingan daya prediksi pada aspek sebelumnya yang telah saya sebutkan.
Aspek ini adalah aspek yang tidak terdapat dalam pola kerja warung burjo, yang ternyata menjadi sebuah alasan mengapa warung burjo sesungguhnya tidak sepenuhnya terkena pengaruh McDonaldisasi. Interaksi antara penjual burjo dan pembeli selalu berjalan dengan lentur, khususnya pada pelanggan tetap. Sebagai contoh, saya memiliki setidaknya dua “teman” penjaga burjo yang selalu menyapa saya dengan nada bercanda setiap saya datang ke warungnya malam-malam. Kadang-kadang bercandaan yang ditawarkan tidak begitu lucu, tapi saya terkesan dengan keramahannya yang tidak dibuat-buat.
Keakraban ini muncul karena keterbukaan diri kebanyakan penjaga burjo yang selalu bersikap ramah dan memanggil pembelinya dengan sebutan “Aa” dan “Teteh” yang merupakan bahasa Sunda. Pada umumnya, jika berada di Yogyakarta anda akan dipanggil dengan sebutan “Mas” dan “Mbak”. Pemilihan penyebutan nama “Aa” dan “Teteh” menunjukkan rasa akrab yang ingin ditunjukkan para penjaganya. Sikap atau kelakuan para penjaga burjo ini tidak dapat diprediksi seperti senyuman dari karyawan di McDOnald.
Interaksi ini bisa jadi terbangun karena denah kursi di warung burjo yang membuat pembeli duduk berhadapan dengan pedagang burjo yang sedang bekerja. Terkadang, pedagang dan pembeli sama-sama saling mengomentari acara televisi yang mereka tonton bersama. Yang pasti, suasana yang terbangun sangat cair dan jauh berbeda dengan sistem kontrol manusia seperti yang terjadi dalam McDonaldisasi.
Nilai-nilai McDonaldisasi yang Termodifikasi
Perbedaan inilah yang kemudian menjadi suatu garis batas yang sangat kental untuk menunjukkan bahwa dalam hal warung burjo, nilai-nilai McDonaldisasi ternyata tidak sepenuhnya bekerja. Nilai interaksi manusia dalam warung burjo adalah suatu poin penting untuk menjelaskan bahwa budaya kita, khususnya budaya Jawa yang sangat ramah dan kekeluargaan[9] menjadi benteng terakhir dari penggerusan nilai-nilai yang diciptakan oleh McDonaldisasi. Aspek ini pula yang menjelaskan mengapa warung burjo menjadi tempat nongkrong yang menyenangkan dan munculah inovasi-inovasi seperti tv kabel dan hot spot internet[10] walaupun desain interior dan eksteriornya tidak senyaman kafe-kafe mahal.
Berbeda dengan McDonald yang memiliki peraturan tidak tertulis bahwa sebaiknya pengunjung hanya duduk dan makan di restoran selama 20 menit untuk menghindari antrian yang terlalu panjang dan kurangnya tempat duduk. Hal ini diantisipasi dengan menciptakan kursi yang tidak terlalu nyaman untuk diduduki. Memang hal ini sedikit berbeda dengan situasi McDonald di Indonesia. Secara garis besar, McDonald di Yogyakarta lebih difungsikan sebagai tempat nongkrong. Motif mengapa McDonald lantas menjadi tempat untuk nongkrong bisa jadi mirip dengan penjelasan Chua Beng Huat tentang penggunaan McDonald di Singapur sebagai tempat kumpul belajar kelompok para pelajar disana[11]. Singapur adalah sebuah kota kecil yang harus pandai-pandai memanfaatkan lahannya dengan baik, maka kebanyakan orang tinggal di apartemen atau rumah susun. Tinggal di gedung-gedung yang tinggi dengan ukuran kamar yang tidak seberapa membuat suasana terasa membosankan dan sumpek sehingga akhirnya McDonald menjadi tempat alternatif untuk berkumpul dengan kawan-kawan.
Begitu pula di Jogja, kebanyakan penduduknya adalah mahasiswa perantau yang tinggal di kos-kosan. Untuk berkumpul dengan kawan-kawan apalagi di malam hari, McDonald menjadi pilihan yang menarik. Bedanya dengan Singapura, harga McDonald dibandingkan dengan standar hidup disana tergolong murah, sementara di Indonesia harga makanan di McDonald tergolong mahal, sehingga bisa dikatakan orang yang nongkrong di McDonald setidaknya harus memiliki uang jajan lebih. Nongkrong di McDonald bisa jadi karena adanya urusan prestis.
Berbeda dengan warung burjo, orang yang makan di warung burjo berasal dari berbagai macam kelas. Tukang becak, anak gaul, anak tidak terlalu gaul, karyawan, semuanya datang ke warung burjo tanpa perlu khawatir dengan citranya. Warung burjo tidak lantas dianggap sebagai makanan kelas bawah sebab seperti telah saya sebutkan sebelumnya, mie instan telah memiliki citra sebagai “makanan semua orang”.
Semacam kesimpulan
Setelah paparan saya diatas, warung burjo saya anggap sebagai sebuah bentuk McDonaldisasi yang ramah. Artinya, ada aspek-aspek dalam bisnis McDonald yang diambil dalam menjalankan usaha warung burjo seperti efisiensi, daya hitung dan daya prediksi. Namun, unsur-unsur yang sifatnya rasional tersebut tidak lantas membuat para pedagang maupun pembeli di warung burjo menjadi robot-robot seperti yang dibayangkan sebagai efek atas McDonaldisasi, yakni “irasionalitas atas rasionalitas”. Budaya kita yang masih bertahan yakni keramahan dan kekeluargaan ternyata menjadi sebuah benteng pertahanan yang membuat burjo sebagai sebuah tempat dengan cetak biru McDonald namun tetap memiliki unsur kemanusiaan.
[1] Pemilihan Jalan Kaliurang sebagai lokasi pengamatan saya disebabkan karena pada jalan tersebut ada banyak sekali kos-kosan mahasiswa. Nama warung burjo di Jogja memang sangat melekat pada imej mahasiswa dengan uang jajan pas-pasan. Artinya, jalan Kaliurang bisa dibilang merupakan lokasi dengan jumlah burjo yang paling signifikan.
[2] Buku ini berisikan sejarah burjo yang disusun oleh BPPM Balairung dan Paguyuban Penjual Kacang Hijau bekerjasama dengan PT Indofood. Dari buku ini, secara cukup mendetail kita dapat mengetahui siapa orang pertama yang menjual bubur kacang hijau dan bagaimana perkembangan warung ini sehingga kini bisa menjual makanan yang lebih bervariasi seperti mi instan, gorengan, dll. Sebagai tulisan yang deskriptif, buku ini bisa dibilang lumayan. Tapi sayangnya buku ini belum menganalisis lebih lanjut bagaimana sistem dalam warung burjo benar-benar bekerja. Buku ini akhirnya menjadi semacam dongeng keteladanan bagi para pedagang burjo untuk melanjutkan usahanya.
[3] Kritik terhadap McDonald biasanya berkaitan dengan efek globalisasi dan homogenisasi budaya atau kandungan gizi yang terkandung dalam sajian di McDonald. “Negeri Fast food” karya Eric Schlosser adalah salah satu buku yang banyak bicara tentang kritik terhadap McDonald. Sementara film dokumenter yang paling terkenal tentang kritik McDonald adalah “Super Size Me” karya Morgan Spurlocks pada tahun 2004.
[4] Walau demikian, kreasi pedagang yang menambahkan sayur sawi atau kubis serta kornet dan keju pada mi instan buatannya merupakan suatu proses memodifikasi keinstanan, yakni sebuah usaha untuk membuat sesuatu yang instan menjadi tidak terlalu instan.
[5] Langkah berikutnya, munculah pencitraan yang dilakukan secara masif oleh perusahaan mi instan untuk membujuk konsumen agar mengonsumsi produknya, mulai dari pencitraan mi instan sebagai makanan keluarga, makanan yang “lintas batas kelas sosial” (kalangan ABG, kelas atas/eksekutif, atau kelas bawah), penggunaan simbol-simbol agama, hingga penggunaan lagu nasional yang dimodifikasi.
[6] Walau demikian, McDonald juga menyadari bahwa pentingnya penyesuaian dengan kultur yang ada di negara tertentu. Sebagai contoh, di India McDonald menjual burger dengan daging kambing cincang mengingat mayoritas penduduk Hindu yang dilarang memakan sapi. Di Indonesia, McDonald menambahkan menu nasi putih (McRice)yang merupakan makanan pokok bangsa Indonesia.
[7] PT Indofood menyadari bahwa para pedagang burjo merupakan agen penjual Indomie yang sangat besar. Dengan kerjasama ini, kebanyakan mi instan yang dijual di warung-warung burjo bermerek Indomie. Oleh karena itu sebagai salah satu bentuk sarana promosi gratis, PT Indofood membuatkan spanduk (di beberapa tempat juga daftar menu dan harga) untuk warung burjo tersebut beserta logo Indomie yang cukup besar dan sama di setiap burjo.
[8] McDonald bahkan mempunyai Universitas Hamburger yang menawarkan “titel” Hamburgerology atau ilmu hamburger dimana tempat ini merupakan pusat pelatihan bisnis bagi para calon manager McDonald yang mengajarkan prinsip-prinsip rasional operasi restoran fast food.
[9] Perihal stereotip budaya Jawa yang ramah sebetulnya perlu ditelusuri lagi.
[10]Warung burjo dengan TV Kabel terdapat di daerah Karangmalang sementara burjo dengan hotspot mulai banyak bermunculan terutama sepengatahuan saya di daerah Jalan Kaliurang.
[11]Chua Beng Huat dalam artikel “Singapore’s Ingesting McDonald” yang merupakan salah satu bagian dari buku Consumption in Singapore.

menulis
July 4, 2009Tentu saja, ini sudah saya perkirakan. Kelakuan saya yang “anget-anget tai ayam” akan membuat blog ini terbelangkai. Di bulan-bulan awal saya senang sekali menulis, rasanya senang sekali melihat laman blog sendiri terisi oleh kata-kata, yang entah dibaca orang atau tidak. Yang penting, rasanya saya sudah menghasilkan sesuatu, setidaknya untuk diri sendiri. Lambat laun, toh kebiaaan itu akan terkikis dengan berbagai macam alasan. Sibuk, malas, lupa, gak ada ide, gak punya laptop, gak ada koneksi internet…. Semua alasan yang saya paksa untuk dapat saya terima.
Tapi, sebetulnya ada satu alasan lain yang membuat saya tersiksa. Saat ini saya sedang mengikuti kelas menulis “AKSARA” yang diadakan oleh Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Tentu saja, saya belajar banyak tentang menulis, gurunya hebat-hebat. Ada budayawan, sastrawan dan peneliti handal. Tapi, saking pintarnya mereka, saya dibuat kagum dan sedikit stress. Saya malu sama tulisan saya yang berantakan, yang tidak berlandaskan teori, yang tidak berargumen dan bisa dipertangungjawabkan. Dalam sebuah presentasi tulisan, saya harus mengakui bahwa tulisan saya masih sangat lemah untuk dapat dipertanggungjawabkan. Goal kelas ini memang untuk menghasilkan tulisan yang ilmiah. Dan saya masih sangat lemah disitu. membuat pertanyaan penelitian saja saya harus jungkir balik. Tatanan berpikir saya dipertanyakan kembali, saya diajak untuk lebih kritis, dan itu sulit. Saya belum sepintar itu :)
Hal inilah yang membuat saya agak ragu untuk menulis. Saya ingin membuat tulisan yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan tulisan yang asal caplok sana sini, seperti yang biasa saya lakukan sebelumnya. Harus saya akui, saya agak malu melihat betapa sok pintarnya saya dulu. Tulisan saya penuh klaim, stereotiping dan pembenaran-pembenaran tanpa landasan. Membaca 2 lembar pemikiran Karl Marx dari internet, saya sudah merasa benar-benar tahu apa itu kapitalisme. Ternyata saya banyak ketinggalan dengan teman-teman saya yang lain. Mereka rajin membaca, dan saya asik main facebook. Saya baru sadar bahwa sejak masuk kuliah justru semakin sedikit buku yang saya baca. Bagaimana saya mau menulis kalau membaca saja jarang? Saya harus mengisi penuh amunisi sebelum saya berani menembak musuh.
Oleh karena itu, untuk blog ku tersayang, sabarlah sampai aku selesai belajar :)

agama dan kawan-kawan
June 7, 2009Agama, tadinya saya pikir adalah sebuah isu yang sensitif untuk dibicarakan di luar negri (baca: Barat). Sejak sebelum keberangkatan saya ke Jerman, sudah banyak teman yang mengingatkan perihal cara bergaul yang “baik dan benar” di negeri orang. Mereka sudah mewanti-wanti saya untuk tidak sembarangan tanya-tanya masalah usia, orientasi seksual, status pernikahan, apalagi agama. Akhirnya, setiap mengobrol dengan orang-orang bule, saya selalu menjaga mulut dan pikiran saya dari rasa ingin tahu berlebih ala ibu-ibu arisan itu.
Tapi, tidak saya sangka bahwa setidaknya ada dua orang yang menanyakan apa agama saya secara blak-blakan. Usut punya usut, rasa ingin tahu mereka muncul dari kebingungan mereka melihat teman-teman saya yang muslim begitu taat beribadah, tidak minum alkohol dan tidak makan babi. Mereka merasa aneh, melihat teman saya yang rela bangun subuh untuk menjalankan sholat–sesuatu yang mereka anggap sebagai sekedar sebuah gerakan aerobik. Mereka juga agak takjub, begitu mengetahui betapa teguhnya iman teman saya yang menolak minum alkohol untuk sekedar menghangatkan diri atau merasakan asin-asin gurihnya daging babi.
Pertanyaan, “Apa agamamu?” sering sekali ditujukan pada saya, karena tadinya mereka pikir saya ini Islam yang mangkir karena makan babi dan minum bir. Kesalahpahaman ini–karena saya sebenarnya adalah seorang katolik (yang sebenarnya juga tidak taat), membawa saya dan bule-bule bingung tadi pada percakapan yang memperkaya perspektif saya terhadap agama dan spiritualitas.
Setelah saya menjawab pertanyaan, “Apa agamamu?” dengan jawaban,’Katolik,” maka teman bule saya itu menghela napas dan berkata, “My religion is…nothing.” Lantas, mulailah dia curhat tentang ketidakpercayaannya pada agama. Menurutnya, agama sudah tidak dibutuhkan lagi. Dulu, mungkin kita masih butuh agama karena belum adanya suatu pedoman baik dan buruk dalam hidup bermasyarakat, namun seiring waktu berjalan, nilai-nilai itu sudah diakui dan dipahami secara universal. Akhirnya, agama menjadi tidak lagi relevan. Kita tetap bisa berbuat baik tanpa harus beragama.Sementara orang beragama pun, saat ini, malah bisa berbuat jahat atas nama imannya.
Ucapan teman saya ini bukan barang baru buat saya. Di kampus saya yang ceritanya kampus filsafat, sudah banyak teman-teman saya yang menganut paham macam si bule ini. Saya juga tahu bahwa “virus” ateisme atau agnotisme memang sudah layak dan sepantasnya tersebar di Barat yang katanya, rasional.
Pertarungan Barat dan Timur, antara spiritualisme dan rasionalisme, memang tidak akan ada habisnya jika keduanya terus-menerus saling mencari kelemahan. Dalam urusan agama, teman bule saya memandang bahwa alangkah bodohnya jika kita harus menjalankan sholat 5 kali sehari, menahan diri tidak minum alkohol bahkan di cuaca dingin atau tidak makan babi padahal rasanya enak. Apakah dengan menjalankan aturan ini kita pasti akan masuk surga? Memangnya surga itu ada dimana? Teman saya, tiba-tiba mencetuskan sebuah kalimat yang akan membuat FPI meletuskan kepalanya, “Jangan-jangan Tuhanmu itu babi ya, makanya dia melarangmu makan babi. Dan jangan-jangan dia begitu menyukai bir, sampai-sampai dia melarang kalian minum bir agar persediaan bir tidak akan habis.”
Dia juga kemudian menambahkan bahwa Tuhannya, dan mungkin Tuhan kebanyakan orang Jerman adalah bir. Mengapa begitu? Jika tiba-tiba semua orang Jerman menjadi Islam dan berhenti minum bir, maka niscaya roda perekonomian Jerman akan sedikit tersendat. Pasalnya, bangsa yang terkenal gemar mengkonsumsi bir adalah Jerman. Bayangkan saja, di sana ada 6.000 lebih merk bir dan 1.200 pabrik pembuatnya. Belum lagi bir-bir buatan industri rumahan dalam skala kecil. Konsumsi bir di sana pada tahun 2005 rata-rata 111,6 liter per kepala, atau setara dengan 82 juta warga Jerman minum 0,31 liter bir setiap harinya. Mungkin konsumsi bir di Jerman sana sama halnya dengan konsumsi air putih bagi orang Indonesia. Terdengar rasional sekali jika teman saya akhirnya menjadikan bir sebagai Tuhannya.
Rasionalitas itu, saya pikir muncul karena kesejahteraan yang sudah merata di Jerman. Semua orang bisa hidup dengan nyaman bahkan jika hanya bekerja sebagai seorang pelayan kafe. Bahkan, sebetulnya gaji seorang pelayan kafe dengan seorang manajer perusahaan tidaklah berbeda jauh karena aturan pajak yang sangat tinggi disana. Akhirnya, orang-orang memilih pekerjaan bukan karena besar gajinya tapi karena apa yang ia sukai. Kemapanan dan kesejahteraan secara ekonomi membuat mereka tidak lagi membutuhkan sosok Tuhan sebagai tempat berdoa dan mengeluh akan kesulitan-kesulitan hidupnya. Mereka lebih percaya pada kekuatan dirinya sendiri dibanding kekuatan Tuhan yang tak tampak. Apa yang tak terlihat, buat mereka tak ada. Ini juga yang menyebabkan gereja-gereja disana tampak sepi dari pengunjung dan malah jadi sekedar tempat wisata.
Sementara, seperti kita semua tahu, kehidupan di Indonesia tidaklah semudah itu. Tidak perlulah saya menyampaikan data-data United Nations tentang berapa persen rakyat Indonesia yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Bisa jadi, sekali lagi saya katakan–bisa jadi, taraf hidup yang masih sangat rendah ini menjadikan agama sebagai pelarian yang paling ampuh bagi jiwa-jiwa yang dilanda kemelaratan. Benih-benih spiritual macam ilmu perdukunan juga berkembang pesat, infotaiment dipenuhi ramalan-ramalan paranormal gaek tentang kehidupan artis, pohon masangin di Jogja selalu ramai tiap malam minggu, dan kita, sesekali masih sering ketakutan dengan pocong atau popok wewe jika sedang jalan sendirian. Apakah ini salah? Apakah kelakuan kita ini berarti kita lebih inferior dari bangsa Barat yang rasional? Tidak juga, saya kira.
Setelah teman bule saya asik membangga-banggakan rasionalitasnya, saya mencoba menceritakan beberapa pandangan saya kepadanya. Dan dalam percakapan kali ini, saya lebih banyak sok tahu daripada benar-benar tahu. Tapi, tak apalah sekali-kali membodohi bule :) Saya ceritakan bahwa pendapatnya tentang keiirasionalitasan teman-teman saya saat sholat sebenarnya sebuah masalah lama, khususnya dalam wacana filsafat. Sejak Descrates menjadi pelopor rasionalisme dengan “cogito ergo sum”-nya, Barat memang lebih cenderung menggunakan akal daripada perasaannya. Memang, tidak semua filsuf Barat modern adalah seorang rasionalis. Ada Kant dan saat yang meperkenalkan idealisme dan menunjukkan bahwa rasio pun memiliki batas-batasnya.
Tapi, ideologi rasionalisme ternyata lebih berkembang seiring munculnya positivisme dan materialisme belakangan. Buktinya, ada teman bule saya yang asyik mencemooh hobi sholat teman-teman saya. Walau begitu, kalau saya perhatikan, sebetulnya Barat mulai merasakan kekeringan dan kehampaan dalam rasionalitasnya. Mereka mulai melirik filsafat Timur yang lebih mementingkan spiritualitas. Mereka mulai sadar kalau sebenarnya modernisme hanya menjadikan mereka sebagai robot-robot industri yang tidak memiliki perasaan. Teknologi yang berkembang pesat memang telah mempermudah hidup manusia tapi tidak lantas membuat mereka jadi mahluk yang berbahagia.
Oleh karena itu, saya katakan teman bule saya untuk tidak terlalu bangga dengan rasionalitasnya. Ideologi Timur dan Barat yang nampaknya selalu bertentangan sebetulnya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita harus saling menghargai, klise ya? :)






