For those who wants to know what I’ve been doing lately…
Posted: January 12, 2012 Filed under: Uncategorized Leave a comment »Seperti judulnya, kali ini saya mem-posting pekerjaan yang akhir-akhir ini sedang saya lakukan. Saya baru saja selesai menerjemahkan salah satu bagian dalam buku “A Companion to Epistemology”. Bagian ini ditulis oleh Alvin Goldman (hlm 80-91) tokoh epistemologi sosial yang pemikirannya saya jadikan objek formal dalam skripsi saya. Dalam artikel pendek ini, Goldman memaparkan tiga konsepsi utama dalam epistemologi sosial. Saya menerjemahkannya dengan niat supaya bisa membaca tulisannya dengan lebih baik dan teliti. Dan karena kajian epistemologi sosial dalam bahasa Indonesia (yang saya ketahui) bisa dibilang tidak ada, maka semoga terjemahan ini bisa berguna bagi orang-orang yang juga melakukan studi epistemologi sosial. Oh ya, saya juga membuat sebuah bagan sebagai hasil pembacaan saya atas artikel ini, namun saya tidak yakin sama sekali dengan validitasnya, sehingga saya mengharapkan masukan dan diskusi bagi teman-teman yang tertarik mempelajarinya. Versi PDF buku ini dapat dengan mudah ditemukan di Internet.
Untuk yang ingin mengutip artikel di bawah ini, silahkan gunakan informasi ini sebagai daftar pustaka.
Goldman, Alvin. 2010. A Companion to Epistemology 2nd edition (edited by: Jonathan Dancy, et al). UK: Blackwell Publishing.
—————————————————————————————————————————————————-
Epistemologi sosial adalah salah satu pendekatan pada epistemologi, atau cabang dari epistemologi yang mengeksplorasi aspek sosial dari cara memperoleh pengetahuan. Epistemologi tradisional memiliki cita rasa yang sangat individualistik. Dalam pola Cartesian, epistemologi tradisional menelaah bagaimana sebuah subjek terisolasi dapat mengetahui, atau dapat menjustifikasi apa yang dia percaya secara menyeluruh oleh dirinya sendiri, dan dalam situasi dimana ketika sumber-sumber pengetahuannya (paling tidak pada tahap awal) tidak dapat diakses oleh pikirannya untuk memperoleh pengetahuan dari luar. Anggapannya, tidak ada bantuan dari sesiapapun, karena eksistensi orang lain itu bersifat problematis. Epistemologi sosial, secara kontras, meneliti dimensi sosial dan interpersonal dari pengetahuan. Hampir seluruh penyusunan pengetahuan kita berkelindan dengan penyusunan pengetahuan orang lain, dan hal ini perlu direfleksikan paling tidak pada salah satu bagian dari epistemologi.
Tiga konsepsi Epistemologi Sosial
Ada tiga konsep berbeda dalam epistemologi sosial, masing-masing dengan ide uniknya sendiri tentang kemana dan bagaimana projek ini harus diarahkan (Goldman, forthcoming a). Konsep pertama, revisionisme, menganggap bahwa konsep dalam epistemologi tradisional secara fundamental salah dan harus diganti dengan epistemologi yang secara menyeluruh bersifat sosial. Pendukung konsep ini termasuk peneliti sosial dan filsuf. Mereka berargumen bahwa studi empiris atau refleksi filosofis terhadap pembentukan pengetahuan manusia menunjukan bahwa paradigma epistemologi tradisional tidak dapat dilanjutkan, oleh karena itu dibutuhkan displin baru yang bersifat sosial.
Konsep kedua dalam epistemologi sosial melihat bahwa tidak ada yang salah secara fundamental dengan inti dalam epistemologi tradisional, secara sederhana, epistemologi tradisional hanyalah belum lengkap. Secara tradisional, epistemologi menempatkan dirinya dengan bagian atau aspek dari pencarian atas pengetahuan dan justifikasi yang dapat dilakukan oleh agen epistemik tanpa bantuan orang lain. Namun, ada ruang yang cukup dalam epistemologi tradisional bagi agen epistemik untuk memperoleh bukti dari agen lain: bukti dari apa yang mereka katakan dan apa yang mereka pikirkan. Bukti sosial seperti ini pasti menjadi relevan atas apa yang dipercayai seorang agen, apa yang dianggapnya rasional untuk dipercaya, dan apa yang ia ketahui. Dua contoh utama dari topik ini ialah mengenai testimonial dan ketidaksepakatan antar rekan (lihat di bawah). Ketika topik ini dimasukkan ke dalam agenda epistemologi tradisional, seluruh elemen sosial yang pantas akan berada di piringan epistemologi. Pendekatan ini dapat disebuh preservasionisme. Ia menolak semua usaha untuk mendesain ulang tubuh primer epistemologi tradisional, dan hanya mengusulkan untuk membuka beberapa cabang baru, sebuah tugas yang pada dasarnya telah tercapai pada beberapa akhir dekade lalu.
Konsep ketiga dalam epistemologi sosial, tidak seradikal revisionisme, namun tidak juga sekonservatif preservasionisme. Seperti preservasionisme, ia menerima pengetahuan terdahulu dalam epistemologi tradisional namun mengusulkan untuk memperluas batasan sosial melampaui topik testimoni dan ketidaksepakatan antar rekan. Agenda yang lebih luas bagi epistemologi sosial dapat termasuk dua topik ini, namun juga harus melampauinya. Pendekatan ini dapat disebut sebagai ekspansionisme (Goldman, forthcoming a, forthcoming b).
Epistemologi Sosial Revisionisme
Sebuah gambaran kecil dari epistemologi tradisional (ET) dapat dilihat dari daftar prinsip-prinsip berikut. Pertama, agen epistemik yang dipelajari ET—paling tidak agen primer epistemik– adalah manusia individual. Kedua, ET mencoba menganalisis beragam tipe desiderata epistemik (kebutuhan/persyaratan epistemik), contohnya dengan justifikasi (jaminan), rasionalitas, pengetahuan dan untuk menentukan metode yang sesuai untuk mencapai atau merealisasikan desiderata tersebut. Yang ketiga, standar normatif dari justifikasi atau rasionalitas tidak selalu konvensional atau relativistik dalam makna peyoratif, namun juga bersifat universal dan memiliki validitas obyektif. Yang keempat, tipe utama dari desiderata epistemik selalu berhubungan atau berkaitan dengan kebenaran, dan kebenaran adalah urusan yang obyektif. Asumsi-asumsi ini dianggap dapat disebut sebagai asumsi fundamental dalam TE.
Revisionisme dalam epistemologi sosial (ES) menolak banyak—jika tidak semua asumsi ini. Salah satu turunan revisionisme ialah konstruksivisme sosial, sebuah versi radikal yang percaya bahwa kebenaran tidak ada di dan bukan dari dunia. Fakta tidak berada “di luar sana” untuk dicari dan ditemukan oleh para investigator, melainkan adalah kreasi atau fabrikasi dari investigator itu sendiri (Latour and Woolgar, 1986). Konstruksivisme sosial kerap mengklaim bahwa hal ini ditunjukan oleh studi empiris dalam sosiologi sains, contohnya, studi yang dikenal dalam laboratorium neuroendocrinologi. “Kami tidak diciptakan dari para ilmuwan… seperti membuka sebuah tirai, menemukan kebenaran yang tersembunyi sebelumnya. Justru, objek (dalam hal ini, substansi) dikonstitusi melalui kreativitas ahli para ilmuwan” (Latour and Woolgar, 1986): 128-9). Hal yang sama dikatakan juga oleh Steven Shapin, bahwa “kebenaran merupakan institusi sosial” (1994:6). Dari kata-kata para penulis ini, pengetahuan dianggap tidak selalu diikuti kebenaran. Pengetahuan, sederhananya, ialah apapun yang anda percayai, atau mungkin kepercayaan yang “terinstitusi” (“institutionalized” belief).
Prinsip lain dari ET, rasionalitas yang objektif, telah ditantang oleh para anggota “pelaksana program yang keras” dalam sosiologi ilmu. Barry Barnes dan David Bloor mendeklarasikan bahwa, “tidak ada yang bebas dari konteks atau norma kebudayaan-super dari rasionalitas” (1982: 27). Dengan kata lain, tidak ada fakta absolut tentang apa yang membuat sebuah kepercayaan rasional, atau bukti apa yang dapat menjustifikasi hipotesis-hipotesis. Thomas Kuhn (1962) adalah seorang figur yang sangat berpengaruh dalam sejarah ilmu, yang menunjukan kelemahan dari usaha untuk memecahkan ketidaksepakatan saintifik yang keras dengan pemikiran objektif murni. Kuhn menyebut “faktor sosial” sebagai penjelasan atau prinsip yang non rasional karena kontrol berlebih dan perubahan dalam paradigma saintifik. Semua penulis ini dapat dianggap sebagai para pemikir epistemologi sosial yang revisionaris, meskipun mereka sendiri tidak pernah menggunakan frase ini.
Para pemikir epistemologi arus utama tampak berniat untuk megacuhkan para penulis di atas. Mari kita lihat lebih dekat argumen yang lebih canggih dari relativisme epistemik sebagai pendukung ET. Argumen ini diformulasi oleh Paul Boghossian (2006) berdasarkan diskusi dengan Richard Rorty (1979) dan Wittgenstein (1969). Premis pertama dari argumen menyatakan bahwa jika ada fakta-fakta absolut tentang justifikasi maka tentu ada kemungkinan untuk dapat memperoleh kepercayaan yang terjustifikasi. Premis kedua mengatakan bahwa bukan tidak mungkin untuk dapat sampai pada kepercayaan yang terjustifikasi tentang fakta-fakta yang telah dijustifikasi. Apa yang menyokong premis kedua? Rorty berpendapat bahwa justifikasi apapun tentang fakta dari justifikasi akan bersifat sirkular (secara epistemik). Ia mengacu pada sejarah ketidaksepakatan antara Galileo dengan tokoh antagonis Vatikan, Kardinal Bellarmine, yang menolak untuk melihat dari teleskop Galileo untuk mendapat bukti tentang struktur langit. Bellarmine yakin bahwa ia telah memiliki bukti yang lebih benar tentang hal ini—yang disebut bukti skriptural– dibanding bukti teleskopik yang ditawarkan Galileo. Galileo dan Bellarmine dapat mencoba untuk memperoleh pembenaran dengan mengacu pada referensi masing-masing atas prinsip-prinsip bukti yang mereka pilih. Namun bagaimana cara mereka membenarkan prinsip-prinsip yang mereka pilih? Bukankan masing-masing harus membela prinsipnya masing-masing, dan bukankan ini akan menjadi argumen ofensif yang sirkular?
Bagi relativisme, sebuah respon yang memungkinkan atas argumen ini ialah menolak bahwa justifikasi dari fakta-fakta yang (seharusnya) telah dijustifikasi bersifat sirkular. Bukankah Kardinal Bellarmine (dapat mencoba) membenarkan prinsip dalam Kitab Suci dengan bukti-bukti yang mendukung berupa observasi lampau tentang keajaiban dan mukjizat? Kekuatan dari justifikasi macam ini dapat diperdebatkan, namun tidak lantas bersifat sirkular. Respon kedua ialah bahwa sirkularitas epistemik tidak dapat dihindari, namun tidak lantas melemahkan pembenaran para pendukung obyektivisme dan non relativisme (Bergmann, 2004; Van Cleve, 2003). Respon ketiga, dan juga yang paling berbeda atas argumen ini ialah dukungan terhadap kebenaran relativisme, namun menolak bahwa relativisme membedakan dirinya dari projek revisionisme dalam epistemologi sosial. Banyak para pemikir relativisme adalah merupakan ilmuwan sosial yang projek utamanya ialah memelajari ilmu itu sendiri atau investigasi komunitas lain. Jika epistemologi relativis benar, bukankah ia menghancurkan projek relativisme itu sendiri? Mengapa memelajari masalah ini secara saintifik jika ilmu tidak memiliki klaim terhadap superioritas epistemik dari metodologi lain? Rorty lebih konsisten dalam hal ini, dengan menyatakan bahwa relativisme-nya merupakan dukungan terhadap “akhir dari epistemologi”.
Basis yang berbeda untuk relativisme ialah pendekatan dialektis untuk justifikasi, yang diadvokasi oleh penulis seperti Rorty, David Annis (1978), dan Martin Kusch (2002). Pada pendekatan ini, apa yang dipercaya seseorang atau bagaimana sebuah pernyataan dapat dijustifikasi adalah masalah bagaimana ia diterima, atau berdiri di masyarakat atau di antara rekan-rekannya. Hanya jika kepercayaan atau pernyataan seseorang mampu bertahan (secara aktual atau potensial) dari serangan pendapat orang lain, maka pernyataan tersebut dapat dijustifikasi. Konsep pengakuan sosial untuk menjustifikasi ini bertabrakan dengan kebanyakan bagian dari ET, meskipun ia membatasi dirinya dalam bentuk kontekstualisme yang akhir-akhir ini menjadi tren dalam epistemologi arus utama. Bagaimanapun, ia menghadapi dua permasalahan serius. Pertama, apa yang dapat dianggap sebagai rekan seseorang atau masyarakat? Ada begitu banyak lingkaran rekanan atau masyarakat yang mungkin, bereaksi pada pernyataan seseorang. Pernyataan tersebut mungkin dapat diterima di sebagian lingkaran, namun tidak di lingkaran lainnya. Kedua, bagaimana jika sang subjek memiliki pengetahuan privat dan ia tidak berhasil mengomunikasikannya kepada rekannya, atau tidak mampu meyakinkan karena memiliki reputasi buruk di antara mereka. Jka reputasi publiknya tidak dapat dipulihkan, apakah ia tidak dapat menjustifikasi kepercayaan dari apa yang ia pikirkan, atau ingatannya atau tindakannya di masa lalu, terlepas dari ketidakmampuan untuk meyakinkan rekanannya?
Ada jenis tawaran lain dari revisionisme bagi ES yang belum kita sebutkan. Contohnya, jika individu adalah standar agen epsitemik dalam ET, beberapa pemikir ES menyatakan bahwa subjek penahu terdiri dari kelompok-kelompok komunitas, bukan individu. Lynn Hankinson menulis: “adalah komunitas yang mengonstruksi dan mendapatkan pengetahuan.. Para kolaborator, peraih konsensus, dan secara lebih umum, agen yang menciptakan pengetahuan adalah komunitas dan subkomunitas, bukan individu” (1993: 124). Bentuk yang lebih lemah dari komunitarianisme hanya menyatakan bahwa hanya di dalam komunitaslah norma epistemik dapat eksis. Tesis komunitarian ini didukung oleh Martin Kusch (2002: 175) dan merupakan varian dari argumen Wittgenstein (1968) melawan bahasa privat. Idenya ialah bahwa individu yang terisolasi secara sosial tidak dapat menyebabkan fenomena yang normatif. Hal ini tentu saja sesuai dengan tesis bahwa individu adalah tipe entitas yang antara mampu atau tidak mampu memenuhi norma epistemik. Ini dapat menjadi prinsip utama dalam ET sejauh agensi epistemik tetap diperhatikan.
Epistemologi Sosial Preservasionisme
Sekarang kita berpindah ke epistemologi sosial preservasionisme dan berfokus pada ekplorasinya atas dimensi sosial yang tetap berpegang pada prinsip-prinsip utama dalam ET. Di sini kita akan melihat kembali dua topik yang telah disebutkan sebelumnya, testimoni dan ketidaksepakatan rekanan—yang telah diterima secara luas sebagai bagian dari pemikiran arus utama.
Masalah dari testimoni ialah problem tentang jaminan dan justifikasi (lihat testimoni pada Part III). Anggapan awalnya, ada situasi dimana para pendengar sudah dijustifikasi untuk memercayai proposisi yang dikatakan oleh pembicara. Situasi macam apakah sebenarnya yang dimaksud disini? Hal ini dapat dilihat sebagai masalah inti dalam ES, “inti” karena situasi testimoni adalah kasus minimal dalam informasi umum yang ditawarkan oleh satu agen epistemik ke agen lainnya. Disebut minimal sebab hanya dua orang yang terlibat dan komunikasi terdiri dari sebuah pernyataan.
Hume menolak jika testimoni dijadikan sumber dasar dalam pembuktian atau pembenaran. Justifikasi berdasarkan testimoni harus berasal dari sumber bukti lain– yang disebut persepsi, ingatan dan kesimpulan induktif. Hume menulis: “Alasan mengapa kita memercayai saksi mata dan sejarawan, bukan berasal dari keterhubungan, melainkan kita menerimanya secara a priori, di antara testimoni dan realitas, namun karena kita telah terbiasa menerima kesepakatan di antara keduanya” (1957: 133). Pandangan Hume tentang justifikasi testimonial saat ini disebut sebagai reduksionisme, pandangan yang dapat dijelaskan dengan dua cara. Interpretasi pertama ialah reduksionisme global. Ia menyatakan bahwa pendengar dapat memberi pembenaran dalam menerima testimoni dari orang lain jika dan hanya jika ia memiliki alasan positif yang tidak berdasarkan testimoni untuk mempercayainya—maka justifikasi tersebut secara umum dapat dipercaya (mungkin benar), dengan kata lain, dapat dipercaya dan digunakan pada semua pembicara dan semua spesimen testimoni. Interpretasi kedua ialah reduksionisme lokal. Ia menyatakan bahwa pembicara dapat membenarkan testimoni dari pembicara hanya jika ia memiliki alasan positif yang tidak berdasarkan testimoni untuk memercayai bahwa testimoni pembicara saat itu dapat dipercayai (E. Fricker, 1995).
Keraguan utama tentang reduksionisme pada dua interpretasi ini ialah bahwa banyak agen epistemik– khususnya anak kecil– tidak dapat memenuhi persyaratan ini. Anak kecil dianggap menerima banyak pengetahuan dan kepercayaan yang terjustifikasi dari ibu mereka. Apakah anak-anak ini memenuhi persyaratan reduksionis untuk kepercayaan yang berbasis pada testimoni terjustifikasi? Apakah anak kecil (katakanlah usia 2 tahun) memiliki alasan positif untuk mempercayai testimoni yang dapat dipercayai secara umum? Kebanyakan anak kecil diekspos kepada contoh kecil dari populasi dunia, dan mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengecek kebenaran pernyataan-pernyataan tersebut secara independen. Apakah anak-anak ini memiliki alasan yang positif dan tidak berdasarkan testimoni untuk percaya bahwa ibu mereka selalu dapat dipercaya setiap waktu? Hal ini juga, dipertanyakan. Pemikiran macam ini membawa C.A.J Coady (1992) menawarkan kritik umum pada reduksionisme tentang testimoni. Coady secara spesifik mengritik Hume, menantang ide bahwa hanya ada sekelompok korelasi umum antara kebenaran dan testimoni, dan mempertentangkannya dengan hubungan yang lebih intim. Melihat masalah yang muncul ini, banyak pemikir epistemologi memilih model non reduksionisme tentang testimoni. Tyler Burge (1993), misalnya, menganggap bahwa seseorang secara langsung memiliki impresi (prima facie) untuk menerima laporan (pernyataan) dari orang lain selama ia tidak memiliki bukti yang melemahkan melawannya. Dengan kata lain, seorang pendengar tidak membutuhkan bukti positif yang independen baik untuk memercayai testimoni secara umum atau memercayai salah seorang pembicara (dalam acara yang sedang berlangsung). Hanya jika testimoni dapat dilemahkan oleh bukti independen, maka si pembicara memiliki justifikasi untuk memercayainya.
Sebagaimana dijelaskan sejauh ini, kedua pandangan ini terlihat cocok secara sempurna dengan tendensi ET untuk melihat semua aktivitas epistemik sebagai “pilihan” doxastik oleh agen individual. Reduksionisme dan non reduksionisme menceritakan kisah yang berbeda tentang apa yang dapat dianggap benar oleh seorang pendengar untuk membenarkan pernyataan dari laporan seseorang. Namun, tetap pembuat keputusan untuk membenarkan (atau tidak membenarkan) adalah bukti yang dimiliki oleh pendengar, yang dikelilingi oleh bukti tentang orang lain dan tuturan mereka. Cerita ini jelas sesuai dengan dasar individualistik dalam ET, sambil juga menyetujui bukti sosial sebagai bentuk bukti tentang orang lain.
Salah satu pendekatan pada testimoni, bagaimanapun, juga menambah jalinan yang lebih panjang, membawa skenario testimoni hampir melampaui orbit ketat ET. Pendekatan ini mengacu pada properti transindividual dari testimoni, sebagaimana tercantum dalam terminologi yang disebutkan Frederick Schmitt (2006). Ide dasarnya ialah baik pengetahuan testimonial dan pembenaran testimonial bersifat sosial dalam kerangka yang cukup kuat. Schmitt mengatakan sesuatu yang berada di sekitar tesis berikut tentang pengetahuan testimonial: “Saya mengetahui p dari testimoni T tentang p hanya jika T tahu p.” Tesis ini membuat pengetahuan sosial dalam kerangka sosial, bahwa pengetahuan saya tentang pengetahuan testimonial diikuti oleh pengetahuan yang dimiliki orang lain selain saya. Tesis serupa (dengan kualifikasi substansial) yang mendukung justifikasi berdasarkan testimoni. Jika tesis transindividual tepat, kita melangkah lebih dalam ke teritori sosial, dimana justifikasi seorang agen bergantung pada justifikasi aktual agen yang memberi testimoni, tidak hanya sekedar persepsi, ingatan dan kepercayaan dari si pendengar.
Masalah dalam ketidaksepakatan beralasan di antara rekan dapat dijelaskan sebagai berikut. Misalnya Marvin memercayai proposisi Q, sementara Melvin menolaknya. Pendeknya, mereka tidak sepakat. Marvin dan Melvin kemudian berbagi satu sama lain seluruh bukti relevan yang mereka miliki terkait Q. Akhirnya, keduanya saling menghormati satu sama lain sebagai “rekan” dimana keduanya memiliki bukti yang sepadan dan kekuatan kognitif yangsepadan pula seperti intelegensia, ketelitian, pikiran yang tidak bias dan semacamnya. Meski begitu, setelah saling berbagi bukti dan memelajari opini berlawanan satu sama lain, baik Marvin dan Melvin tetap berpegang pada pendirian masing-masing terkait Q. Keduanya mempertahankan sikap awal mereka. Apakah keduanya bisa dianggap logis? Atau fakta ini menunjukan bahwa paling tidak salah satu di antaranya tidaklah logis? Jika ada seperangkat prinsip justifikasi yang obyektif dan tepat– salah satu asumsi fundamental dalam ET– bagaimana ketidaksepakatan antara Marvin dan Melvin dapat dikatakan logis? Bukankah seharusnya mereka “menepis perbedaan” satu sama lain dan menyepakati sikap yang sama? Posisi “konformis” ini didukung oleh Richard Feldman (2007), David Christensen (2007) dan Adam Elga (2007), di antara yang lainnya.
Kaum nonkonformis, di sisi lain, menganggap bahwa analisis ini melupakan sebuah elemen penting. Jika ada sebuah perangkat unik dan tepat untuk aturan justifikasi, maka kepentingan untuk memelajari opini berbeda dalam ketidaksepakatan akan membuat satu pihak mungkin memiliki sikap justifikasi yang tepat, sementara pihak lain tidak. Jika demikian, mengapa pihak yang menjustifikasi harus setuju dengan pihak yang tidak terjustifikasi hanya karena ada ketidaksepakatan? Seharusnya ia tetap pada pendiriannya. Secara kasar inilah argumen dari kaum “non konformis”, termasuk Peter van Inwagen (1996), Thomas Kelly (2005), Jennifer Lackey (forthcoming), dan Ernest Sosa (forthcoming).
Untuk sementara, kita tidak memerlukan kesimpulan dalam perdebatan ini. Entah apakah alasan logis selalu membutuhkan kesepakatan dari rekanan dalam sikap doxastik, situasi ini masih berada dalam kerangka ES. Memiliki bukti tentang sikap rekan terkait Q kadang bisa menjadi relevan bagi pembenaran atau alasan logis sikap seseorang, bahkan jika ia tidak menyelesaikan masalah. Bukti tentang sikap rekan– bukti sosial– terkadang relevan. Namun hal ini tidak membawa kita melampaui kerangka ET, sebab bukti sosial yang membantu pilihan alasan logis tetap ditentukan oleh tiap individu. Hal ini tidak membutuhkan perubahan fundamental dalam ET.
Epistemologi Sosial Ekspansionisme : Varian Veritistik
Dalam pola Cartesian asli, ET berkontemplasi dengan agen epistemik tunggal yang terhubung dengan satu aktivitas: pembuatan keputusan doxastik. Pembuatan keputusan doxastik, secara kasar, merupakan adopsi (atau kepanjangan) dari sikap doxastik terhadap proposisi berdasarkan persepsi, memori dan kepercayaan. (Frase “pembuatan keputusan” tidak dimaksudkan pada implikasi bahwa adopsi terhadap sikap doxastik merupakan tindakan sukarela.) Sikap ini bisa diklasifikasi baik dalam bentuk tiga bagian—kepercayaan, suspensi, ketidakpercayaan—atau dalam bentuk bertingkat– tingakatan kepercayaan, atau probabilitas subyektif. Pendekatan preservasionisme ke ES dapat disebut sosial selama ia sampai pada skenario paling tidak satu tambahan agen manusia, seseorang yang berinteraksi dengan pembuat keputusan doxastik (PKD) dengan menyatakan sesuatu atau menunjukan opininya. Terlepas dari pengenalan pada agen tambahan ini, bentuk normatif atau evaluatif dalam ES preservasionisme masih berfokus pada pembuatan keputusan doxastik. Apa yang dievaluasi ialah antara sikap doxastik yang diadopsi atau proses pembuatan keputusan. Sikap tersebut secara tipikal dapat dievaluasi sebagai terjustifikasi atau tidak terjustifikasi, dan prosesnya mungkin dievaluasi sebagai rasional atau tidak rasional. ES preservasionisme memperlihatkan sedikit ketertarikan dalam mengevaluasi kegiatan si pembicara.
ES ekspansionisme, secara kontras, dipersiapkan untuk memperluas daftar aktivitas atau praktik yang dilakukan subjek dalam evaluasi epistemik. Ini bukan hanya tawaran titik berangkat ekspansionisme, melainkan merupakan poin yang paling penting. Meski masih berada dalam epistemologi arus utama, ada sedikit perhatian pada norma berbicara, khususnya norma persetujuan. Secara umum telah disetujui bahwa orang-orang tidak diperbolehkan hanya menyetujui apapun dalam keadaan apapun. Tidaklah pantas bagi seseorang untuk menyetujui proposisi yang ia anggap salah, atau menyetujui proposisi yang tidak memiliki cukup bukti. Grice (1980) menyatakan sebuah adagium yang melarang persetujuan di bawah situasi tertentu.
Para pemikir epistemologi berdebat mengenai standar apa yang pantas untuk norma persetujuan, namun dalam pandangan yang popular, pengetahuan dianggap sebagai norma persetujuan: seseorang dapat menyetujui p hanya jika ia tahu p (Williamson, 2000, DeRose, 2002; Hawthorne, 2004; Stanley, 2005). Pengetahuan sebagai norma persetujuan tidak berjalan begitu saja tanpa adanya kritik. Matthew Weiner (2005) mendukung kebenaran sebagai norma persetujuan, dan Jennifer Lackey (2008) mendukung kepercayaan logis sebagai norma persetujuan. Setiap norma ini, bagaimanapun, merupakan semacam norma persetujuan. Sehingga meskipun pemikir epistemologi tidak merepresentasikan diri mereka sebagai pemikir yang telah meninggalkan ET (dalam bentuk yang menarik bagi kita), mereka tetap mendukung tesis-tesis tentang aktivitas yang dapat dievaluasi secara epistemik yang melampaui aktivitas doxastik murni.
Beranjak melampaui persetujuan yang sederhana dan polos, Goldman (1994) menganggap adanya tipe aktivitas bicara yang lebih kompleks. Dalam argumentasi, seorang pembicara biasanya mendukung sebuah kesimpulan berdasarkan seperangkat premis-premis yang telah disetujui. Goldman menunjukan sekelompok aturan implisit yang mengatur aktivitas bicara ini, dan berargumen bahwa mereka didasarkan oleh konsekuensi epistemik yang diharapkan bagi partisipan dalam pembicaraan. Peraturan ini bukanlah peraturan pembuatan keputusan doxastik, sehingga ia berfokus pada tipe aktivitas yang berbeda dengan ET.
Namun, tipe lain dari aktivitas yang terkait bicara masih bisa menjadi subjek dalam norma yang didorong secara epistemik. Misalnya aturan legal yang mengatur pengakuan atau pengecualian bukti di pengadilan. Banyak aturan-aturan ini dirasionalisasi oleh teori tentang bagaimana efek dari beragam tipe bukti bagi para juri dan konsekuensinya pada resiko pembuatan putusan yang tidak akurat. Ketakutannya ialah pada beragam jenis testimoni dapat menimbulkan “prasangka” atau “menyesatkan” para juri, sehingga membuat mereka membuat putusan yang salah. Aturan-aturan ini dirasionalisasi oleh pandangan epistemik, yang juga disebut kondusivisme-kebenaran atau penangkalan-kesalahan. Karena aktivitas yang diatur (pengakuan atau pengecualian bukti yang ditawarkan) bukanlah aktivitas pembuatan keputusan doxastik, maka ia melampaui lingkup ET dan mengilustrasikan apa yang sedang dikerjakan oleh ekspansionisme.
Bagaimana peraturan atau evaluasi disistematisasi? Goldman (1999: 87-90) mencoba mensistematisasikannya dengan pendekatan veritistik. “Veritisme” mengacu pada metode pengukuran spesies tertentu dari nilai epistemik yang diasosiasi dengan keadaan doxastik dan nilai kebenaran dari konten proposisi mereka. Di bawah metode ini, keadaan doxastik seseorang versus pertanyaan Q– contohnya, entah apakah p adalah kasusnya atau tidak– memiliki nilai veritistik 1.0 jika seseorang dapat dikategorikan percaya p (atau memiliki tingakatan kepercayaan pada p yang setara dengan 1.0) dan maka ia benar. Jika seseorang memiliki tingkatan kepercayaan 1.0 pada p dan ia salah– maka secara setara, memiliki tingakatan kepercayaan 0 pada bukan-p dan ia benar– nilai veritistik dari keadaan doxastiknya ialah 0. Nilai veritistik berada di antara 0-1 terhubung dengan tingakatan kepercayaan terhadap jawaban benar atas pertanyaan yang ada di antara kepercayaan sepenuhnya dan penolakan sepenuhnya. (Tugas nilai veritistik juga bergantung pada apakah seseorang tertarik dengan pertanyaan Q) Goldman menyebut “kelemahan” pengetahuan dimana ia hanya berisikan kepercayaan sederhana (selengkapnya, Goldman dan Olsson, forthcoming). Jadi, keadaan yang dapat diveritistikasi dengan baik dapat dideskripsikan sebagai keadaan pengetahuan.
Yang berikutnya akan menunjukkan pendekatan pada nilai veritistik “fundamental” (nilai V). Hal lain selain keadaan doxastik dapat dialokasikan pada nilai V “instrumental” dalam kerangka kebijaksanaan tendensi mereka dalam memproduksi keadaan doxastik baru, atau perubahan dalam keadaan doxastik, dengan nilai V fundamental. Secara khusus, beragam praktik atau aktivitas disebut memiliki nilai V instrumental. Praktik-praktik ini dalam pertanyaan bisa menjadi praktik individual atau praktik sosial; yang kelak akan menjadi fokus dalam Knowledge in Social World. Praktik sosial dapat memiliki efek dalam suatu waktu dengan memproduksi penambahan (atau pengurangan) kepercayaan seseorang terhadap kebenaran. Ada dua moda evaluasi veritistik yang memungkinkan di bawah pendekatan yang ditawarkan ini. Moda pertama ialah moda absolut. Moda ini mengevaluasi nilai V instrumental dalam suatu praktik tanpa referensi dari praktik alternatif. Apakah praktik ini bertendensi, secara rata-rata untuk memproduksi perubahan positif atau negatif dalam nilai V fundamental? Moda kedua evaluasi bersifat komparatif. Di sini para teoritikus mempertanyakan apakah dua praktik spesifik, π dan π′, memiliki properti veritistik yang superior (diaplikasikan pada jangkauan pengaplikasian yang sama). Sebagai contoh, perangkat aturan legal bagi pengakuan atau pengecualian bukti mana yang dapat memproduksi perangkat putusan yang lebih baik secara veritistik? Artinya, usaha apapun untuk memutuskan properti veritistik yang komparatif dari dua praktik akan menghadapi banyak halangan. Hal ini adalah sesuatu yang kerap ingin diketahui para pembuat kebijakan, meskipun sangatlah sulit untuk mendapat jawabannya.
Poin utama bagi tujuan kita saat ini ialah bahwa bukan hanya praktik pembuatan keputusan doxastik, tapi juga praktik sosial yang luas dan beragam, dapat menjadi objek bagi evaluasi veritistik. Ini adalah titik prinsipil dimana expansionisme veritistik menjadi bagian dari ET. Terlepas dari perbedaannya, ekspansionisme masih memegang asumsi fundamental dalam ET—contohnya, objektivisme epistemik dan kepentingan berlanjut (meski tidak eksklusif) dalam agen epistemik individual dipertentangkan dengan agen kolektif. Pengenalan pada agen epistemik kolektif dalah kepanjangan dari ekspansionisme, yang akan ditunjukkan dalam bagian akhir di bawah ini.
Epistemologi Sosial Ekspansionisme: Varian Evidensial
Versi veritistik dari ekspansionisme mungkin tidak menarik bagi sebagian orang. Kekhawatirannya mungkin karena versi veritistik tidak berpusat pada praktik sosial baru yang dibawa di bawah epistemologi namun pada model evaluasi veritistik. Kepercayaan yang benar mungkin memiliki nilai epistemik, namun bukankah pengetahuan (“yang kuat”) memiliki nilai epistemik yang lebih besar? Jadi mengapa epistemologi sosial harus berfokus hanya pada kepercayaan yang benar? Mengapa tidak berfokus pada pengetahuan, dalam kerangka “yang kuat”, atau pada kepercayaan yang dijustifikasi? Untuk mengakomodasi preferensi ini, kita akan mengeksplorasi cara kedua untuk melihat ekspansionisme, yang menjadi pusat dalam penciptaan dan penggunaan bukti sosial. Fokus pada bukti akan menjadi netral sesuai dengan standar evaluasi epistemik. Ia akan sesuai baik dengan standar berdasarkan pengetahuan maupun standar berdasarkan justifikasi (dengan anggapan bahwa bukti itu penting dalam dua standar ini).
Pengumpulan bukti adalah aktivitas epistemik yang jarang disentuh ET, terlepas dari perluasannya dalam kehidupan sehari-hari dan kepentingannya dalam sains. Pengumpulan bukti menjalankan lingkup dari aksi biasa dalam observasi perseptual menjadi penggunaan instrumen pengukuran dan eksperimentasi yang dibuat dengan hati-hati. Dalam fisika, tentu saja, bukti yang diinginkan ditujukan untuk memahami objek dan sistem fisika. Sehingga bukti dalam pertanyaan biasanya merupakan bukti fisik. Dalam ilmu sosial dan politik, bukti yang dibutuhkan berhubungan dengan masyarakat, sehingga bukti sosial menjadi elemen yang penting. Partisi awal ini, bagaimanapun, melemahkan seluruh peran bukti sosial pada semua ilmu– dan dalam dunia akademis maupun kehidupan sehari-hari. Semua ilmu, bahkan ilmu fisika merupakan aktivitas sosial dalam konteks secara virtual semua ilmuwan bergantung pada laporan saintifik dan opini dari orang lain (Hardwig, 1985, 1991; Kitcher, 1993, ch. 8). Penelitian dimulai dengan tinjauan pustaka, yang berisikan kumpulan laporan dari peneliti sebelumnya. Ini merupakan bukti sosial. Untuk memperluas argumen bahwa sains bersifat kolaboratif, kebanyakan proyek penelitian bergantung pada tiap partisipan atas opini teknis dari partisipan lain. Opini-opini ini juga merupakan spesimen dari bukti sosial (bagi partisipan awal).
Kita harus melihat lebih banyak tentang bagaimana bukti secara umum dan bukti sosial pada khususnya dikonseptualisasi di sini. Ada banyak cara untuk mengkonseptualisasi bukti (Kelly, 2006). Di sini yang saya maksud dengan bukti ialah sesuatu di dunia, di luar pikiran dari subjek epistemik. Bukti ialah sesuatu yang dapat ditemukan subjek di dunia, dan representasi mentalnya terhadap bukti ialah apa yang digunakannya sebagai kesimpulan yang dibuatnya. Bukti sosial mengandung aksi atau keadaan pikiran orang lain. Untuk kebutuhan saat ini, bukti sosial berisikan baik keadaan doxastik maupun aksi (deklarasi) dalam komunikasi: secara kasar, apa yang mereka percaya dan apa yang mereka nyatakan. Ini bisa disebut sebagai bukti kognitif sosial; namun saya tidak akan memberatkan pembaca dengan istilah sulit ini.
Seperti bukti lainnya, ada yang membedakan bukti sosial dapat menjadi bukti juga. Asumsi umumnya ialah seseorang yang menyatakan bahwa p adalah bukti bahwa ia percaya p, dan kepercayaannya pada p ialah bukti untuk kebenaran p. Kualitas bukti tersebut, akan memiliki ragam per kasus ke kasus. Jika seseorang tertarik dengan jawaban pada pertanyaan tertentu namun tidak dapat secara personal memperoleh bukti fisik probatif (dapat dibuktikan) , adalah natural untuk mencari bukti sosial yang terdapat dalam pertanyaan tersebut. Dalam masalah perluasan yang melampaui lingkungan spasio-temporal seseorang, bukti fisik probatif kadang sulit untuk didapat. Maka orang secara natural mencari bukti sosial: mendengar dari para traveler seperti apakah negara asing, membaca tulisan tentang kebudayaan lampau untuk memahami masa lalu. Dengan mendapatkan bukti-bukti semacam ini, ketika ia eksis dan dapat diakses, dapat membantu seseorang menjustifikasi kepercayaan dan bahkan pengetahuan dengan menghargai ketertarikan seseorang terhadap suatu pertanyaan.
Edward Craig (1990) menggambarkan potret sederhana dari situasi dasar manusia dengan menceritakan kisah “genealogi” (sejarah keluarga)berdasarkan kebutuhan dasar pada kebenaran mendorong kita untuk menemukan “informan yang baik” untuk menambah sumber epistemik kita, yaitu orang yang akan memberitahukan kita kebenaran dari p. Bagaimanapun, jika ada kemungkinan informan kita tidak kompeten dengan formasi kepercayaannya dan atau menyesatkan dalam pembicaraan, maka tentu ada suatu metode publik yang dapat membedakan informan yang baik dan yang tidak. Maka masyarakat kerap memilih “alat indikator” untuk membantu agen epistemik mengidentifikasi apakah seorang pembicara kompeten dan dapat dipercaya. Proses seleksi sosial ini tampak logis untuk dianggap sebagai aktivitas epistemik-sosial, dan ia berada di bawah payung aktivitas yang dipelajari di ES ekspansionisme. Sebagaimana ditunjukkan Miranda Fricker (1998), sangatlah mungkin bagi masyarakat untuk membuat kesalahan dalam menggunakan alat indikator. Suatu masyarakat dapat mengganggap kelas tertentu merupakan informan yang baik meskipun sebenarnya tidak, atau gagal menentukan kredibilitas seseorang yang mungkin sebetulnya mampu. Karena ada hubungan antara kredibilitas dan kekuasaan, praktik epistemik macam ini, menurut Fricker, menyebabkan ketidakadilan pada sebagian orang (Fricker, 2007). Contoh dari hal ini, dieksplorasi oleh Steven Shapin (1994), adalah pekerjaan untuk memberikan kredibilitas khusus pada anggota kelas “gentleman” di Inggris abad ke 17. Menjadi “gentleman” dianggap sebagai “alat indikator” dalam kebudayaan masa itu. Elizabeth Anderson (2006) memberikan contoh analogi dengan menggarisbawahi pentingnya demokrasi dalam mendengarkan beragam informasi.
Bagi banyak segmen dari ES ekspansionisme, sebuah judul umum yang baik bisa jadi adalah “tugas publik untuk mengumpulkan sumber epistemik kolektif kita”. Tugas ini, dianalisis oleh Philip Kitcher (1990), sebagai bagaimana sains harus membagi pekerjaan di antara banyak investigator. Agen pemberi hibah kerap harus menentukan dimana mereka harus meletakkan taruhan mereka, penelitian saintifik mana yang harus mereka dukung. Kitcher menunjukkan bahwa, bahkan jika seorang kimiawan individual memiliki kesempatan untuk menemukan struktur molekul penting lebih besar dengan menggunakan metode A dibanding metode B, bukan berarti bahwa distribusi usaha komunitas secara optimal (dan demikian pemberi hibah) akan diberikan pada semua kimiawan yang menggunakan metode A. Justru, lebih baik membagi usahanya: biarkan sebagian kimiawan menggunakan A dan lainnya menggunakan B.
Pertanyaan lain tentang pengumpulan sumber kolektif berfokus pada penggunaan optimal dari teknologi digital untuk menciptakan dan menyebarkan bukti sosial. Wikipedia, ensiklopedia online, ialah contoh dari proyek tersebut. Ia menciptakan bukti sosial dalam jumlah yang sangat besar tersedia dalam beragam subjek, dengan niat untuk meningkatkan situasi epistemik para pembacanya. Wikipedia adalah produk kolaborasi massal, ia dapat diedit oleh siapa saja yang memiliki akses Internet. Don Fallis (2008) menawarkan evaluasi seimbang dari kekuatan dan kelemahan epistemik Wikipedia. Artikel dalam subjek tertentu dianggap membangun beberapa bukti (positif) dari kebenarannya, namun kualitas buktinya masih dapat diperdebatkan. Seorang yang skeptis menulis, “seperti seorang yang buta membimbing yang buta– monyet-monyet yang tak terhitung jumlahnya menyediakan informasi bagi pembaca yang tak terhitung jumlahnya, menciptakan lingkaran informasi yang menyesatkan dan ketidakpedulian” (keen, 2007: 4). Pernyataan yang ditawarkan Fallis terhadap keahlian epistemik Wikipedia lebih positif (meski tetap harus diawasi).
Area lain dimana banyak piilihan terkait bukti sosial ialah area hukum, Pengadilan kadang memilih untuk memaksa saksi untuk memberi testimoni meskipun mereka tidak menginginkannya. Pilihan lain yang dibuat oleh pengadilan, atau hakim, ialah untuk mengijinkan saksi yang dianggap ahli oleh satu pihak untuk bertestimoni. Jika saksi diklaim sebagai saksi ahli, peraturan Daubert (1993) menyatakan bahwa hakim yang bertugas harus menentukan apakah sang ahli memiliki kualifikasi untuk memberi testimoni. Karena hakim biasanya orang awam sehubungan dengan ilmu, maka kualitas epistemik dari prosedur ini menimbulkan isu kontroversial (Brewer, 2006).
Dalam perannya sebagai pembuat keputusan untuk mengakui atau memperkecualikan testimoni tertentu, hakim dianggap sebagai “penjaga gerbang” bagi pembicara di dalam ruang pengadilan. Penjaga gerbang adalah peran dalam proses komunikasi yang biasa ada dimana-mana dan merupakan subjek yang pantas bagi analisis epistemik. Penjaga gerbang mengatur saluran komunikasi, seperti halaman editor dalam koran, jurnal akademis atau acara berita televisi. Penjaga gerbang bertugas untuk menentukan apa yang akan dipublikasikan, atau ahli mana yang dapat memberi opini; dengan kata lain, bukti sosial mana yang akan ditunjukan pada audiens. Beberapa teoritikus mengatakan bahwa seharusnya tidak ada penjaga gerbang sama sekali, bahwa masyarakat epistemik terbaik harusnya dilayani oleh pasar bebas dalam berbicara, dimana kesempatan berbicara dialokasi oleh mekanisme pasar biasa. Ini adalah isu dimana ES ekspansionisme dalam memberi kontribusi (Goldman dan Cox, 1996; Goldman, 1999, ch. 7).
Apakah Agen Epistemik Kolektif dapat Menjadi Rasional?
Tema terakhir dalam ES ekspansionisme berfokus pada eksistensi dan karatker agen epistemik kolektif. Baik ET dan preservasionisme berfokus hanya pada agen individual. Revisionisme (atau versi lain semacamnya) mengadvokasi komunitas sebagai satu-satunya agen epistemik. Ekspansionisme menawarkan untuk mengakui agen epistemik individual dan kolektif.
Akhir-akhir ini sejumlah filsuf mendukung legitimasi metafisis dari entitas kelompok dengan sikap intensional (lihat khususnya Pettit, 2003). Hal ini berhubungan dengan bahasa sehari-hari dan diskursus formal tentang pemerintah, pengadilan legal, komite akademis dan hal-hal serupa. Jika entitas kelompok memiliki sikap intensional, kepercayaan dan pertimbangan, maka pertanyaan lainnya ialah apakah pola pertimbangan mereka dapat bertemu dengan standar rasional epistemik. Ada masalah menarik dalam teritori ini yang mengarah pada agenda ES ekspansionisme.
Isu ini adalah lokus dari sub-bidang baru yang disebut agregasi pertimbangan (pengumpulan pertimbangan/ judgment aggregation). Philip Pettit (2003) mengidentifikasi dan mengeneralisasi sebuah paradoks, yang ia sebut sebagai “dilema diskursif”. Ia berfokus apda hubunga antara pertimbangan faktual dari anggota individual dalam suatu kelompok dan pertimbangan kelompok itu sendiri. Ketika komite atau pengadilan harus memberikan pertimbangan dengan seperangkat proposisi yang logis, ada dua cara untuk melanjutkannya. Anggaplah bahwa ada sebuah argumen dimana A dan B adalah premis-premisnya dan C adalah kesimpulannya. Jika pertimbangan kelompok terhadap kebenaran dalam proposisi ini ditentukan oleh voting mayoritas, maka sebuah prosedur akan membuat para anggota memilih tiap-tiap premis, dan membuat voting mayoritas menentukan kesimpulan kelompok. Alternatif lain, setiap anggota dapat menentukan kesimpulan mereka masing-masing dan membiarkan kesimpulan individual menentukan kesimpulan kelompok. Dalam beberapa keadaa, bagaimanapun, dua metode ini akan memberikan dua hasil yang berbeda. Metode mana yang akan dipilih untuk menentukan agregasi pertimbangan kelompok?
Masalahnya menjadi semakin menantang dalam teori “ketidakmungkinan” yang dibuktikan oleh Christian List dan Pettit (2002, lihat juga List dan Pettit, forthcoming). Teori ini menunjukan ketidakmungkinan rasionalitas kelompok dengan analogi teori ketidakmungkinan Kenneth Arrow (1963) yang meluncurkan teori pilihan sosial. Sebutlah pertimbangan terhadap seperangkat proposisi rasional dalam kasus perangkat tersebut konsisten dan lengkap. Asumsikan bahwa setiap anggota kelompok membuat seperangkat pertimbangan rasional individual dari proposisi-proposisi ini. Menurut teori ini, tidak ada kemungkinan bagi prosedur agregasi yang dapat memunculkan pertimbangan kolektif dari pertimbangan anggota yang dapat memuaskan batasan rasionalitas ditambah tiga kondisi berikut: (1) domain universal, (2) anonimitas, dan (3) sistematitas (lihat List, 2005 untuk penjelasan dan eksplorasi kondisi ini).
Maka, apa prospek bagi rasionalitas kelompok dalam penemuan formal ini? Pertanyaan ini beranalogi dengan pertanyaan yang menarik bagi para pemikir epistemologi ketika dikonfrontasi dengan paradoks lain, seperti paradoks lotre atau paradoks dalam pengantar. Rasionalitas adalan konsep utama dalam evaluasi epistemik, sehingga sangatlah layak bagi para pemikir ES untuk mengevaluasi prospek bagi prosedur rasional atau hampir-rasional bagi pengumpulan pertimbangan faktual. Baik ET dan ES preservasionisme membatasi perhatian mereka pada pembuatan keputusan doxastik yang dibuat oleh agen individu. Bagaimanapun, ada kelanjutan yang jelas di antara isu pembuatan keputusan doxastik yang dibuat oleh individu dan isu pembuatan pilihan rasional oleh kolektif. Topik inilah yang secara natural akan berada dalam lingkup epistemologi sosial di bawah varian ekspansionisme.
Bagan Belajar
(klik gambar untuk melihat penuh)
Pangeran yang Selalu Bahagia dan Sembilan Kisah yang Tidak Berakhir Bahagia
Posted: December 21, 2011 Filed under: Uncategorized Leave a comment »
Pangeran yang Selalu Bahagia merupakan judul kumpulan cerita pendek yang ditulis Oscar Wilde untuk dua putranya, Vyvyan dan Cecil. Jika anda adalah orang tua yang sejak dini ingin mengajarkan anak-anak anda tentang makna penderitaan, kesendirian, kesombongan yang memabukkan, kemiskinan atau sakitnya patah hati, maka buku ini adalah buku yang tepat untuk dibacakan sebagai dongeng sebelum tidur.
Kisah-kisah yang ditulis Wilde dalam buku ini terlalu menyedihkan sehingga kadang terasa janggal, penuh ironi dan membuat saya terombang-ambing mempertanyakan ulang makna kebahagiaan. Apa memang hidup sedemikian menyedihkan? Ditulis dengan gaya klasik dan bahasa yang sederhana namun puitis, Wilde mengeksploitasi kesedihan sampai ke sumsum tulangnya.
Dalam kisah Pangeran yang Selalu Bahagia, diceritakan seorang Pangeran yang seumur hidupnya tinggal di Istana dan selalu bahagia bergelimang harta. Ketika ia mati, sebuah patung dari emas, batu rubi dan safir dibuat untuk mengenang dirinya. Patung tersebut berdiri tinggi menjulang ke angkasa, hingga alkisah suatu hari seekor burung layang-layang yang akan berimigrasi ke Mesir hinggap di kakinya untuk beristirahat. Ketika sang burung hampir tertidur, ia merasakan tetesan air jatuh ke tubuhnya. Ternyata itu adalah tetes air mata sang pangeran. Pangeran kemudian bercerita pada sang burung tentang apa yang ia lihat selama menjadi patung tinggi di tengah kota. Di sudut kampung ia melihat perempuan penjahit yang tidak mampu memberi anaknya makan, ia melihat seorang penulis drama yang meringkuk kedinginan di loteng mencari ilham, juga seorang gadis penjual korek api yang jualannya tidak laku termenung di trotoar. Sang pangeran kemudian meminta burung layang-layang untuk mencomoti batu-batu berharga di tubuhnya dan memberikannya pada mereka. Pengorbanan sang pangeran membuat Pak Walikota menganggap patung pangeran menjadi ‘kumuh dan tidak berselera seni tinggi’, sehingga patung pangeran kemudian digusur. ”Karena ia adalah tidak indah lagi, maka ia tidak lagi bermanfaat,” kata Profesor Seni dari sebuah universitas yang mendampingi Pak Walikota untuk menilai kelayakan patung Pangeran. Sang burung layang-layang juga mati karena cuaca di kota itu yang terlalu dingin untuknya.
Kisah yang tidak bahagia ini “belum ada apa-apanya” dibanding sembilan kisah lain yang juga tidak berakhir bahagia. Beberapa cerita diakhiri Wilde dengan nada sedikit moralis dan Katolik-humanis. Seperti kisah Raksasa yang Egois, tentang seorang raksasa kesepian yang kelak menemukan kehangatan dalam jiwa anak-anak yang bermain di halaman rumahnya. Atau Raja Muda yang berkisah tentang seorang anak yatim piatu yang tiba-tiba diangkat menjadi seorang raja dan tidak tega menggunakan sebuah jubah mewah karena dijahit oleh seorang ibu miskin. Namun pada kisah-kisah lainnya, seperti Bunga Mawar dan Burung Bul Bul, Teman yang Setia, Ulang Tahun Infanta, Anak Bintang dan Nelayan dan Jiwanya, seolah diakhiri dengan niatan khusus Wilde untuk menyayat hati para pembacanya.
Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul diawali dengan kisah seekor burung bul-bul yang mendengar tangisan seorang laki-laki karena tidak memiliki sekuntum mawar merah untuk diberikan pada perempuan idamannya. Padahal, perempuan tersebut hanya bersedia untuk berdansa dengannya jika diberikan sekuntum mawar merah. Tersentuh oleh perasaan cinta yang amat mendalam dari sang laki-laki, sang burung bul-bul pun terbang mengitari seluruh penjuru kota, sampai ke sudut-sudut padang ilalang untuk mencari sekuntum mawar merah. Namun ia tak berhasil menemukannya. Sebagaimana rambutan atau durian, tampaknya bunga mawar merah sedang tidak musim. Dalam pencariannya, ia bertemu dengan sekuntum mawar putih yang mengatakan bahwa ada satu cara, namun cara yang amat mengerikan untuk bisa mendapatkan mawar merah. Caranya ialah dengan menusukkan dada ke duri sebatang pohon mawar saat bulan purnama, sehingga darah yang mengalir deras akan menghasilkan mawar merah yang merekah indah. Dengan heroik, sang burung bersedia menukar hidupnya demi mendapatkan sekuntum mawar merah untuk si laki-laki yang dimabuk cinta, sebab, katanya, “Apa artinya jantung seekor burung dibandingkan degup cinta seorang manusia?”
Maka malam itu, tepat saat bulan purnama, layaknya Yesus yang mati di kayu salib, begitu pula sang burung bul-bul menusukkan duri pohon mawar ke dadanya, sehingga darah mengalir deras, dan di pagi hari tumbuhlah sekuntum mawar merah tepat di bawah jendela si laki-laki. Saat bangun pagi dengan perasaan yang masih galau, sang laki-laki menemukan bunga mawar yang tumbuh dan mekar dengan indah. Ia kegirangan dan segera memetiknya, lalu berlari ke rumah perempuan idamannya.
Sampai di rumah sang perempuan, si laki-laki menyerahkan bunga mawar dan menagih janji perempuan tersebut untuk berdansa dengannya. Namun, sang perempuan justru menatapnya dengan raut wajah setengah jijik, katanya, ”Maaf, tetapi warna mawar itu tidak cocok dengan warna baju yang akan kukenakan.” Si laki-laki marah dan berkata bahwa perempuan itu tak tahu terima kasih, ia melempar bunga itu ke kubangan sambil menggerutu. ” Ah betapa konyolnya cinta itu ” kata laki-laki itu saat ia melangkah pergi, “Cinta itu tidak sepraktis logika, karena ia tidak bisa membuktikan apapun, dan cinta itu selalu berkata hal-hal yang tidak akan terjadi, dan membuat orang percaya akan hal-hal yang tidak benar. Pada kenyataannya, cinta itu sangat tidak praktis, padahal semua orang tahu, di jaman sekarang kepraktisan itu adalah segalanya. Aku akan kembali pada filsafat dan mempelajari metafisika.”
Kisah Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul benar-benar sialan. Sama sialannya dengan beberapa kisah sedih lain di kumpulan cerpen ini yang benar-benar membuat saya tertohok oleh kisah yang katanya dibuat untuk anak-anak. Di satu sisi Wilde ingin menunjukkan bahwa kesetiaan dan ketulusan itu masih ada, namun di sisi lain ia justru mengatakan betapa naifnya mempercayai hal-hal yang kita sebut sebagai kebahagiaan. Ia mempertentangkan antara bagaimana sulitnya memperoleh kebahagiaan, namun juga betapa mudahnya menyepelekan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang rapuh, ia sulit didapat namun begitu mudah hilang begitu saja.
Dalam Catatan dari Bawah Tanah, Dostoyevsky mengutip kisah Cleopatra yang menusukkan peniti ke dada para dayang-dayangnya hanya untuk mendengar mereka berteriak kesakitan. Ia gembira, bahkan terangsang mendengar teriak-teriakan kesakitan. Harus saya akui, kali ini saya pun begitu menikmati penderitaan-penderitaan yang dikisahkan Oscar Wilde.
Puisi
Posted: December 20, 2011 Filed under: Uncategorized Leave a comment »Disclaimer: ini merupakan posting numpang lewat
Entah mengapa saya percaya, bahwa puisi yang baik akan lahir dari kesepian dan mampu menemani kesepian. Kata-kata berserakan di udara dan kesepian memungutinya, lalu menggubahnya menjadi puisi.
Apa itu puisi?
Akhr-akhir ini saya sedang akrab dengan buku puisi. Mungkin karena puisi liris selalu mampu membuat saya setengah tersenyum dan mengingat segelintir nama dan peristiwa yang manis maupun getir, atau kadang membaca buku puisi bagi saya seperti beristirahat sejenak dari kata-kata njelimet yang sering terpaksa harus saya baca. Saat membaca puisi, saya membiarkan diri saya merasakan. Kata “merasakan” memang abstrak, dan saya pun kesulitan untuk menjelaskannya. Kerap, dalam halaman-halaman buku puisi, ada kata-kata tidak terasa bermakna dan lewat begitu saja. Tapi tak jarang pula, ada baris-baris puisi yang menohok, atau mengutip istilah Acep Zamzam Noor, “mendirikan bulu kuduk.” Kalau ada puisi yang berhasil mendirikan bulu kuduk, saya bisa membacanya berulang kali. Saya selalu tergoda membaca puisi liris, tentang cinta dan kesepian, dengan sedikit sentuhan luka dan melankolia. Bagi saya membaca puisi itu seperti mendengarkan lagu. Kadang saya juga menganggap puisi yang baik setara dengan doa. Atau doa yang baik semestinya setara dengan puisi.
Lindap – Acep Zamzam Noor
Posted: December 7, 2011 Filed under: Uncategorized Leave a comment »Kita pun kelu mengeja rindu
Berkaca di kolam jiwa
Tercipta lagu dari kediaman yang bisu
Maka lelaplah waktu
Hari-hari lindap tanpa bicara
Lelap pun kita, larut dalam bahasa isyarat
Menjengkal jarak tanpa kata-kata
Kita pun kelu membaca cinta
Tenggelam di kolam rasa
Kita pun beku, o, dinginnya bagai salju
Bertahan di kubu rindu
(1982)
cinta dari perspektif seorang filsuf gay yang patah hatinya
Posted: September 18, 2011 Filed under: Uncategorized Leave a comment »
Roland Barthes; nama ini tentu saja dikenal sebagai salah satu semiolog yang telah membuat ratusan atau ribuan mahasiswa filsafat dan fisipol angkatan 90-an di Yogyakarta berduyun-duyun menulis skripsi dengan buzzword “semiotika”. Sepanjang hidupnya, Barthes mengobservasi teks, simbol, tanda dan mitos untuk membongkar bagaimana hal-hal tersebut dikonstruksi untuk membentuk suatu makna yang diterima bersama.Ia menolak obviousness dari pengetahuan yang terberi. ”Most of my injuries come from the stereotype”, katanya.
Baru dua karya Barthes yang sudah sempat saya bolak-balik halamannya; Eiffel Tower and Other Mythologies, sebuah kumpulan esai Barthes yang membongkar bagaimana gaya hidup borjuis Perancis dikonstruksi menjadi mitos-mitos dan Camera Lucida; dimana Barthes dalam teorinya yang kini sering dikutip para fotografer menyebut ada dua makna realitas dalam fotografi–studium dan punctum. Studium adalah zona yang mudah dilihat dan dicerna, sesuatu yang dapat ditangkap langsung secara general. Sementara punctum adalah detail yang nyaris tak terlihat dan tak penting, sekelebat kecelakaan yang mampu memberikan reaksi tak terduga dalam suatu imej.
Seperti cinta pada pandangan pertama? Barangkali. Bisa jadi.
Draft kasar buku yang sedang saya baca saat ini, “A Lover’s Discourse” ditulis Barthes saat ia belum terkenal sebagai akademisi, dan sedang menderita penyakit TBC. Penyakit ini membuatnya harus terjebak di sanatorium, dimana ia kemudian jatuh cinta pada seorang laki-laki, Robert David, yang sayangnya tidak memiliki perasaan yang sama dan bukan seorang homoseks. Setiap hari Barthes menulis surat untuknya, selama 6 bulan, kadang sehari dua kali. Tentang kisah cintanya yang kerap bertepuk sebelah tangan, Barthes berkata, “How clearly I saw that I would have to give up boys, because none of them felt any desire for me… Nothing will be left for me but hustlers.” Perkataanya memang terdengar sangat menyedihkan dan penuh nada putus asa, tapi barangkali kita tidak perlu mengasihaninya–karena tanpa kesedihan, kesepian dan luka di hatinya, tidak akan lahir buku yang paling puitis dalam sejarah penulisan Roland Barthes. Saya jadi ingat ada ungkapan bahwa “the best companion for a writer is loneliness” :)
Saya sendiri masih mencoba menerka-nerka angle akademis dalam buku ini. Dalam level praktis, buku ini merupakan pembacaan Barthes atas novel Sorrows of Young Werther karya Goethe sebagai master teks, dimana ia menggunakan peristiwa-peristiwa dalam buku tersebut untuk mengumpulkan gestur-gestur cinta. A Lover’s Discourse dari fragmen-fragmen yang mengumpulkan “figure” atau yang disebut Barthes sebagai gestur subjek (lover) yang merefleksikan cinta dalam kesendirian. Misalnya, rasa cemburu (jealousy), penantian (waiting), diam (silence), menangis (crying), drama (drama), dan berbagai gestur lainnya yang biasa ditunjukan saat seseorang sedang berurusan dengan cinta. Sampai saat ini, saya baru bisa menikmati buku ini sebagai semata sebuah novel, meskipun ia tidak semudah itu untuk dicerna. Kata-kata yang bermunculan di buku ini terdengar begitu sensitif dan hati-hati, nyaris seperti puisi patah hati dari seorang laki-laki kesepian yang berusaha merasionalkan perasaannya. Dalam buku ini Barthes mengambil peran sebagai subjek yang terluka (wounded) dalam hubungan cinta; sebagai orang yang menunggu (“Am I in love? — Yes, since I’m waiting.”) Wayne Kostenbaum, dalam pengantar buku ini mengatakan, “consider this book as a jar of nuances: trapped fireflies.” Kunang-kunang yang terperangkap dalam toples. Saya pikir itu istilah yang sangat tepat. Cahaya-cahaya kecil berhamburan dalam fragmen-fragmen ini. Aneh, mengganggu sekaligus menyinari.
Kunang-kunang yang ditangkap Barthes, dan kemudian dikumpulkannya ke dalam toples bagi saya seperti percikan-percikan sinar kesadaran yang muncul saat seseorang berusaha merasionalisasikan cinta. Mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Hal apatah gerangan yang membuatnya menjadi begitu gila, mendadak bodoh, mudah galau, malas makan….? Buku ini seperti sebuah bentuk pergumulan Barthes dengan kesadarannya. Di satu sisi kesadaran menjadi candu, tapi di sisi lain menjadi terus menerus sadar adalah menyakitkan.
Bayangkanlah, jika kita menjadi orang “biasa” yang “tidak sadar”, kata “i-love-you” yang muncul dari mulut kekasih akan terdengar sangat merdu dan romantis. Tapi apa kata Barthes tentang kata “i-love’you”?
“I-love-you has no usage. Like a child’s word, it enters no social constraint; it can be sublime, solemn, trivial word, it can be erotic, pornographic word. It is a socially irresponsible word.”
“I-love-you is not a sentence: it does not transmit a meaning, but fastens onto limit situation: the one where the subject is suspended in a specular relation to the other.” (p. 148)
Melalui tulisan seorang teman, saya mengetahui bahwa Dostoyevski pernah berkata, “Tapi percayalah, Tuan-tuan, adalah penyakit bagi kita kalau kita jadi terlalu sadar—penyakit yang betul-betul parah.”
Bagi anda yang menikmati rasa sakit dalam kesadaran maupun ketidaksadaran, berikut saya kutipkan beberapa fragmen favorit saya dalam buku “A Lover’s Discourse.”
On embrace (in the loving calm of your arms):
“Besides intercourse, there is that other embrace, which is a motionless cradling: we are enchanted, bewitched: we are in the realm of sleep, without sleeping; we are within voluptuous infantilism (perasaan sensual seorang anak kecil) of sleepiness: this is the moment for telling stories, the moment of the voice which takes me, siderates me, this is the return to the mother, in loving calm of your arms. In this companionable incest, everything is suspended: time, law, prohibition: nothing is exhausted, nothing is wanted: all desires are abolished, for they seem definitively fulfilled.” (p.104)
On jealousy:
“As a jealous man, I suffer four times over: because I am jealous, because I blame myself for being so, because I fear that my jealousy will wound the other, because I allow myself to be subject to a banality: I suffer from being excluded, from being aggressive, from being crazy, and from being common.” (p. 146)
On waiting:
“‘Am I in love? –Yes, since I’m waiting.’ The other never waits. Sometimes I want to play the part of the one who doesn’t wait; I try to busy myself elsewhere, to arrive late; but I always lose at this game: whatever I do, I find myself there, with nothing to do, punctual, even ahead of time. The lover’s fatal identity is precisely: I am the one who waits.“ (p. 39-40)
On crying (in praise of tears):
By weeping, I want to impress someone, to bring pressure to bear upon someone (“Look what you have done to me”).
… I make myself cry, in order to prove myself that my grief is not an illusion: tears are signs, not expressions. By my tears, I tell story, I produce myth of grief, and henceforth I adjust myself to it: I can live with it, because, by weeping, I give myself an emphatic interlocutor who receives the “truest” of messages, that of my body, not of my speech: “Words, what are they? One tear will say more that all of them.” (p. 182)
dialektika ontologis dari apa-yang-biasa-kita-sebut “cinta”
Posted: August 25, 2011 Filed under: Uncategorized Leave a comment »Manusia telah mengatasnamakan “cinta” untuk menciptakan banyak hal: bayi-bayi yang mempersempit bumi, novel erotik, novel sains fiksi, sajak, puisi, pantun, musik, lirik, matematika, penelitian ilmiah, kitab suci, sinetron, film, karya seni dan entah apa lagi. Ada yang bagus, tapi banyak juga yang sekedar sampah numpang liwat.
Saya tidak tahu pasti sejak kapan konsep cinta itu muncul. Apa Adam dan Hawa saling mencintai? Bukankah mereka hanya dua manusia yang terjebak hidup berdua di Taman Firdaus? Mungkin mereka mencintai karena tidak ada pilihan lain. Random thoughts.
Pertanyaan tentang apa itu cinta, sama menyebalkannya seperti pertanyaan tentang apakah Tuhan itu ada. Sialnya, pertanyaan tentang cinta juga sama esensialnya sepertinya jika kita mempertanyakan apa itu hidup. Membicarakan cinta itu melelahkan. Melelahkan dan menyedihkan. Ia penting dan sekaligus tidak penting.
Pertama-pertama, memikirkan esensi cinta akan membuat kita perlu mem-break down apa saja kategorisasi cinta. Cinta bisa berarti belas kasih, kepuasan, desire, emosi, pornografi, erotisisme, persahabatan, kasih sayang orang tua, passion. Semua adalah bentuk nyata dari abstraksi cinta. Cinta tidak dapat dijelaskan tanpa dilekatkan dengan kategori-kategori di atas. Cinta sebagai cinta itu tidak ada. Memikirkan cinta berarti berada dalam jumlah kuantitas yang tak berbatas yang memiliki kontradiksi di dalamnya dan tidak bersifat hirarkis. Cinta bersifat singular. Ia penuh konflik– dibutuhkan tapi sekaligus tidak mungkin dimiliki secara utuh, manis sekaligus pahit, bebas sekaligus mengikat, menghidupkan sekaligus mematikan, spiritual sekaligus sensual, altruistik sekaligus egoistik. Cinta adalah bentuk nyata dari dialektika (hegelian), ia adalah inti dari kontradiksi. Secara ontologis, cinta adalah inti untuk “mengada” atau the heart of being.
Salah satu cara mengekspresikan cinta ialah dengan kata-kata. Model dialektika yang kontradiktif tampak dalam konsep kalimat “Aku cinta kamu” (I love you); dimana dalam kalimat ini membuat subjek “aku” mengada karena adanya “kamu”. Kalimat ini tidak bisa berdiri tanpa adanya subjek lain. Kalimat “aku cinta” tidak memiliki makna, dimana inti kalimat “aku cinta kamu” bukan di “aku”, atau “cinta” atau “kamu” tapi di “aku” dan “kamu”. Ia kontradiktif sekaligus non kontradiktif.
Permasalahan dari kalimat “aku cinta kamu” adalah bahwa ia memuat janji. Tanpa janji, ia hanya sebuah tuturan tanpa arti. Tidak ada bedanya dengan desahan saat orgasme, bersuara tapi tidak bermakna. Kalimat “aku cinta kamu” dikutuk sebagai sebuah janji, karena tanpa janji maka ia tidak akan memiliki makna (meaningless). Masalahnya janji dalam kalimat “aku cinta kamu” pun tidak memiliki definisi yang pasti atau tetap, dan secara paradoks pula, ia tidak bisa menjamin apa-apa di masa depan. Ada kemungkinan bahwa seseorang kelak tidak mencintai orang yang pernah ia ucap kalimat “aku cinta kamu”. Cinta, secara hukum dialektis mengandung ketidakmungkinan untuk menepati janji yang dibuat oleh cinta itu sendiri. Cinta mengandung pengingkaran di dalamnya.
———
Tulisan aneh ini adalah interpretasi sederhana (dan barangkali ngawur) atas teks Jean Luc Nancy, “Shattered Love”.
Nancy dikenal sebagai seorang filsuf kerap menulis tema metafisika dan ontologis tentang permasalahan “being” atau “ada”. Dari seorang teman saya tahu bahwa Nancy membangun filsafatnya dengan argumen bahwa seluruh pondasi filsafat Barat yang mencoba mencari “being” dalam “aku” adalah sesat pikir, sebab menurutnya “mengada” hanya mungkin terjadi dalam bentuk “mengada dengan” (being with). Saya sendiri belum membaca dengan teliti teks nancy dalam buku “Being Singular Plural”. Saya justru tertarik mempelajari beberapa esai digita-nyal yang berserakan, dimana kebetulan kali ini tema yang ditulis Nancy cukup menarik sekaligus misterius: cinta.
No damn cat and no damn cradle
Posted: August 9, 2011 Filed under: book review Leave a comment »Paradoks pahit dari kehidupan adalah kenyataan menyakitkan bahwa kita tidak akan bisa menjelaskan realitas tanpa berbohong– namun ketidakmungkinan untuk membohongi diri sendiri; membuatnya menjadi semakin menyakitkan.
Cat’s Cradle adalah buku tentang paradoks kebohongan yang ditampilkan dengan humor gelap penuh bualan-bualan satir namun arif bijaksana. Novel ini diceritakan dari sudut pandang seorang narator bernama John, yang sedang melakukan penelitian untuk menulis buku tentang pembuat bom Hiroshima Nagasaki. Investigasi John membawanya ke kota Ilium untuk mencari jejak-jejak sejarah hidup Felix Hoenikker, ilmuwan dibalik pembuatan bom tersebut. Hoenikker telah lama meninggal dan meninggalkan ketiga anaknya yang kini terpencar, Frank, Angela dan Newt. Ketiga anak ini memiliki masing-masing kepingan ice-nine, penemuan terakhir Felix yang kelak dapat menghancurkan dunia dengan membuatnya menjadi beku.
Cat’s cradle sendiri dalam bahasa Inggris berarti sebuah permainan dengan karet menggunakan tangan (cat’s cradle mengalami perubahan kata dari “scratch cradle”, lihat link ini untuk lebih jelasnya– karena saya tidak menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia). Tidak ada hubungan antara “cat’s cradle” (terjemahan harafiahnya: tempat lahir/buaian kucing) dengan bentuk permainan karet yang pada dasarnya membuat bentuk seperti dua huruf X. Newt, anak bungsu Hoenikker yang bertubuh kerdil, dalam sebuah percakapan dengan John mengatakan:
“no wonder kids grow up crazy. A cat’s cradle is nothing but a bunch of X’s between somebody’s hand, and little kids look and look and look at all those X’s…”
”and?”
“no damn cat and no damn cradle.” (p. 118)
Konon, ketika bom atom di Hiroshima Nagasaki meledak, Hoenikker sedang memainkan cat’s cradle.
Dalam perjalanan cerita–bagai takdir yang tak terhindarkan– John bertemu dengan ketiga anak Hoenikker di sebuah negara fiktif di kawasan Karibia, San Lorenzo. San Lorenzo dipimpin oleh seorang diktator yang bernama ‘Papa’ Lorenzo, dan Frank, anak tertua Hoenikker dipercaya menjadi tangan kanannya. San Lorenzo dideskripsikan sebagai negara paling miskin di dunia yang penduduknya sangat primitif dan memegang teguh kepercayaan Bokonisme secara diam-diam. Agama resmi di San Lorenzo adalah Kristen, dan agama lain di luar itu dilarang dengan hukuman yang kejam (ditusuk dengan tombak yang ujungnya tajam). Bokonisme diambil dari nama sang pencipta agama ini, Bokonon. Cerita singkatnya, Bokonon dan Earl McCabe adalah dua orang pelaut yang terdampar di San Lorenzo dan kemudian mencoba “memerintah” San Lorenzo dengan cara menciptakan agama fiktif. Bokonisme adalah kepercayaan yang acuh tak acuh, bersifat nihilis, dan sinis terhadap hidup dan kepercayaannya terhadap Tuhan. Dalam bab pertama kitab suci Bokonisme, Bokonon menulis: “All of the true things I am about to tell you are shameless lie.”
Maka agar orang-orang percaya pada Bokonisme, Bokonon membuat kitab suci dan menyebarkan ajaran dan ritualnya (salah satu ritual dalam Bokonisme ialah bokomaru– sebuah aksi intim antar sesama penganut Bokonisme yaitu dengan menempelkan telapak kaki yang telanjang ke telapak kaki pasangannya.) Dengan strategi konspirasi yang cerdas, ajaran Bokonisme dilarang oleh McCabe agar terdengar mistis. Bokonon “menghilangkan diri” ke hutan dan McCabe berpura-pura mengerahkan tentara untuk mencarinya. Kebohongan ini membuat Bokonon seperti seorang martir suci dan membuat orang-orang menjadi pengikut taat ajarannya. Selanjutnya, dalam sejarah San Lorenzo yang aneh, McCabe memimpin San Lorenzo dan melanjutkan kebohongan Bokonisme. Ia memanfaatkan ajaran agama Bokonisme yang eskapis untuk lebih mudah mengontrol penduduk San Lorenzo. Waktu berjalan dan diktator demi diktator bergantian melanggengkan kebohongan demi kebohongan.
Kemudian, dengan jalan cerita yang absurd, ‘Papa’ Lorenzo bunuh diri dengan menelan ice nine, membuat tubuhnya beku seperti kristal. Frank sebagai tangan kanannya meminta John untuk menjadi presiden San Lorenzo (aneh sekali bukan?). Pada upacara penghormatan kematian ‘Papa’, sebuah pesawat tempur yang mengangkut jenazah ‘Papa’ mengalami kecelakaan dengan menabrak pada istana pemerintahan– jenazah ‘Papa’ jatuh ke laut dan menginfeksi lautan dengan efek dari ice nine. Hampir tidak ada orang yang selamat dari ‘kiamat kecil di San Lorenzo’, kecuali beberapa tokoh utama di novel ini, termasuk John. Cerita belum selesai begitu saja. Anda harus membacanya sendiri, untuk merasakan tawa satir yang menyeruak tiap membalik halaman buku ini.
Maka pada halaman terakhir buku ini, saya mencoba menghayati semua kesinisan dan nada-nada satir yang ditulis Vonnegut. Tentang paradoks- paradoks di dalamnya. Apakah memang pada akhirnya yang ada hanyalah kosong? Apakah kita manusia memang ditakdirkan untuk menjadi Sisipus yang terus menerus mencari tahu apa itu makna kehidupan, dan pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa semuanya hanyalah kumpulan kebohongan? Apa pula makna kebebasan, ketika kita tidak benar-benar mengontrol setiap akibat dari pilihan-pilihan kita. Apa makna takdir dan apa makna kebetulan?
Dalam ranah filsafat, pemikiran nihilisme eksistensialis menganggap bahwa hidup memang tidak memiliki suatu makna atau tujuan tertentu. Semuanya absurd, dan yang ada hanyalah ketiadaan. Beberapa tokoh yang lumayan terkenal dengan tulisan-tulisan galaunya antara lain Kierkegaard dan Sartre. Dalam ranah epistemologi, metafisika atau ontologis, pemikiran nihilisme menganggap bahwa manusia tidak mungkin mendapat pengetahuan yang sempurna akan realitas– atau bahkan, realitas sesungguhnya tidak eksis (skeptisime) Ah, kadang saya merasa bahwasanya memikirkan hal-hal semacam ini tidak ada gunanya :)
Akhirnya, saya akan menutup tulisan ini dengan kutipan dari Kitab Bokonon tentang sejarah penciptaan manusia. Diceritakan Tuhan yang merasa bosan dan kesepian menciptakan manusia dari lumpur. Ketika manusia pertama tercipta, ia bertanya pada Tuhan:
“what is the purpose of all this?” he asked politely
”everything must have a purpose?” asked God
”certainly,” said man
”then i leave it to you to think of one for all this,” said God, and He went away. (p. 190)
The Procrastinator
Posted: July 18, 2011 Filed under: Uncategorized Leave a comment »Bangun kesiangan. Memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan. Melakukan hal-hal yang tidak perlu dilakukan. Berkelit dengan waktu. Tercangkul di satu titik membiarkan orang-orang lain menikung jalan. Membuat janji pada diri sendiri, dan untuk kesekian ribu kalinya mengingkarinya lagi. Lantas untuk apa membuat janji? Tentu saja untuk diingkari. Berputarputar – berjalan satu langkah – kemudian mundur dua langkah. Barangkali lebih baik jongkok. Atau kayang? Agar dunia terbalik saja.
Wahai skripsi, berbaikhatilah padaku.
Oscar Wilde
Posted: July 6, 2011 Filed under: Uncategorized Leave a comment »
Gara-gara membaca Olenka, saya jadi ingat bahwa saya punya satu foto makam Oscar Wilde di Pere Lachaise yang bagi saya baguuus sekali. Foto ini saya ambil sendiri dengan menggunakan kamera Holga, dan mungkin karena matahari yang sedang cerah, angle saya yang sedang bagus, atau memang bangunan makam ini memang sangat menarik, saya merasa bahwa hasil foto ini sangat oke.
Waktu memotret makam ini, saya hanya tahu bahwa Oscar Wilde adalah seorang penyair dan penulis naskah drama yang terkenal. Tapi saya belum pernah membaca satu pun karyanya, bahkan sampai sekarang. Tapi melihat betapa makamnya begitu dipuja, sampai-sampai makam itu dipenuhi bekas kecupan ribuan orang, saya pikir pasti Wilde adalah penyair yang sangat romantis. Dalam bayangan saya, barangkali seperti Sapardi Djoko Damono. Soalnya, memang biasanya segala sesuatu yang cinta-cintaan itu lebih laku dan populer di kalangan perempuan-perempuan.
Kembali ke Oscar Wilde dan Olenka, dari novel Budi Darma ini saya baru tahu kalau Oscar Wilde itu biseks. Entah gay atau biseks. Budi Darma menggunakan Oscar Wilde sebagai pembanding perilaku Olenka yang juga pernah jatuh cinta dan bercinta dengan seorang perempuan.
Berikut saya kutipkan catatan kaki no 40 Budi Darma tentang Oscar Wilde,
Orang tua pengarang Oscar Wilde menginginkan mempunyai anak perempuan, tetapi ternyata Oscar lahir sebagai anak laki-laki (1859). Sampai bertahun-tahun Oscar diberi pakaian perempuan, dan diperlakukan sebagai anak perempuan. Setelah dewasa, dia menggunakan jubah putih kedomboran, mondar-mandir memberi ceramah tentang seni untuk seni. Meskipun istrinya cantik dan aleman, dia main-main dengan laki-laki bangsawan bernama Lord Alfred Douglas. Akibatnya, pada tahun 1895 dia dijebloskan ke penjara. Dengan membawa perasaan malu setelah lepas dari penjara dia mlencing ke Paris, minum-minum dan akhirnya mati di sana pada tahun 1900.
Dari pencarian tidak serius di Google, saya juga tahu bahwa bekas kecupan lipstik itu ditinggalkan oleh para pemuja Wilde, yang bisa jadi belum membaca karyanya melainkan karena mereka menjadikan Wilde sebagai sebuah ikon pahlawan yang dipenjara karena cinta; ia dianggap sebagai martir bagi kaum homoseksual.
Hmmm… Oscar Wilde pernah berkata, “History is merely gossip. But scandal is gossip made tedious by morality.”
Setelah Membaca Olenka
Posted: July 6, 2011 Filed under: book review Leave a comment »1.
Budi Darma mengatakan, bahwa kebanyakan tema dalam cerpen atau novelnya adalah kisah tentang kepahitan.Ia juga mengatakan, bahwa cerita-ceritanya merupakan, “serangkaian jatuh bangunnya individu dalam usaha mereka untuk mengenal diri mereka masing-masing. Sadar atau tidak, setiap individu harus mengakui bahwa hidupnya adalah serangkaian kekosongan.” Bagi saya cara Budi Darma menceritakan kepahitan, sangatlah ajaib.
Mengapa saya mengatakan kepahitannya sebagai sesuatu yang ajaib, adalah karena saya merasa tokoh-tokoh dalam novel ini bertindak, berkata dan berperilaku dengan absurd. Dan kemudian setelah membaca novel ini, saya lantas memikirkan kembali makna “absurd”. Apakah absurd itu? Apakah ia berarti tidak masuk akal, aneh, omong kosong, atau apa? Masing-masing tokoh utama dalam novel ini; Fanton Drummond, Olenka dan Wayne Danton, menunjukkan bagaimana usaha jungkir balik manusia dalam memperjuangkan eksistensinya. Dan tokoh-tokoh ini adalah tokoh yang kalah. Yang tak selalu harus menjadi berarti sebelum ia mati. Ia akan selalu terombang-ambing di antara “nasib” dan “kemauan bebas”. Apakah ada orang yang memang ditakdirkan untuk menjadi jahat? Jika menjadi jahat adalah nasib, mengapa kita harus mempertanggungjawabkannya? Tapi sebaliknya, jika kehidupan adalah tentang pilihan-pilihan, begitu banyak hal yang tidak dapat dikuasai dan dikontrol oleh manusia. Jadi benarkah manusia menggantungkan nasibnya pada diri sendiri? Manusia mencari-cari tahu apa arti hidup. Dan apakah hidup itu?
Tentang pribadi Olenka, Fanton Drummond berkata, “Kadang-kadang saya merasa bahwa dalam usahanya untuk menghindarkan kesengsaraan, dia justru mencari kesengsaraan. Seperti yang pernah dikatakannya sendiri, seluruh hidupnya merupakan rangkaian perayaan untuk melupakan kesengsaraan dengan mengingatkan diri bahwa dia tidak akan terlepas dari kesengsaraan. Jalan untuk membebaskan dirinya dari kesengsaraan adalah selalu menyadari bahwa kesengsaraan selalu ada.” (hlm 216)
2.
Ajaib pula adalah, bagaimana Budi Darma menyusun kata-kata. Cara ia menulis sangatlah menarik. Pada bagian akhir novel, yang diberi judul “Asal Usul Olenka”, Budi Darma menjelaskan bagaimana ia membangun cerita dalam novel ini dari sebuah pertemuannya dengan perempuan di lift, yang kemudian juga menjadi bagian pertama dalam novel Olenka. Beliau tidak dapat menjelaskan dengan seksama, darimana keinginan tiba-tiba untuk menulis muncul setelah bertemu dengan perempuan di lift itu. Bahwa kemudian sejak mulai menulis pun, ia tidak memiliki intensi apa-apa, tahu-tahu 3 minggu kemudian, terciptalah novel Olenka. Namun bukan berarti pula bahwa novel Olenka turun dari langit, laiknya wahyu Tuhan. Pendekatan logisnya adalah, sejauh pemahaman saya, kegiatan menulis adalah sebuah kegiatan mengumpulkan, menyatukan dan membangun ulang petilan-petilan dari ingatan-ingatan kita atas apa yang kita baca, dengar, lihat atau lakukan. Novel Olenka, meskipun lahir dari intuisi adalah juga merupakan kumpulan pengalaman-pengalaman, atau obsesi-obsesi Budi Darma yang belum selesai. Kenapa nama Olenka muncul misalnya, jika dirunut-runut ternyata adalah karena saat masih SMP di Salatiga, Budi Darma pernah begitu menyukai sebuah cerpen Anton Chekov, berjudul “The Darling”, yang tokoh utamanya adalah seorang perempuan bernama Olga Semyonova. Ketika kemudian Budi Darma tinggal di Bloomington, tidak sengaja ia menemukan kembali buku kumpulan cerpen di pasar loak, beberapa minggu sebelum menulis Olenka. Bahwa kelak ia mengetahui nama asli Olga dalam bahasa Rusia Olenka, itu adalah sebuah kebetulan, atau menurut Budi Darma, “Dengan tidak sadar saya telah mengambil nama itu bukan karena nama itu sendiri, tetapi karena nasib pemiliknya.”
Saya pikir dalam proses penulisan novel ini pun, antara alam bawah sadar dan alam sadar keduanya saling bekerja sama. Antara memori yang samar, pikiran yang mengganggu dengan common sense saling bersekongkol, sehingga dari membaca Olenka, saya juga kemudian bisa menerka apa saja referensi Budi Darma saat menulis novel ini. Beberapa catatan kaki pada novel ini juga merupakan sebuah usaha Budi Darma untuk meneropong bagaimana caranya berpikir saat menyusun novel ini, yang kadang berasal dari buku yang sedang ia baca, tak selalu bersifat akademis, kadang hanya impresinya saja.
Cara menulis lain yang menarik, adalah cara menulis Wayne Danton, salah satu tokoh dalam Olenka, yang merupakan seorang pengarang cerpen, yang barangkali pintar, tapi congkak dan kata Olenka, “Miring otaknya.” Wayne adalah pengarang yang sering tidak punya ide untuk menulis. Salah satu caranya menulis ialah dengan meniru metode seorang penulis Rusia yang ia lupa namanya. Sang penulis Rusia ini mempunyai kebiasaan berjalan-jalan. Pada waktu berjalan-jalan, kadang ada kata-kata indah yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Kata-kata itu kemudian ia tulis di secarik kertas dan ia tempel di dinding kamarnya. Ia sering menulis karya-karyanya dengan menggunakan petilan kata-kata itu sebagai batu loncatan. Wayne meniru cara menulis ini. Dan saya pun tiba-tiba ingin meniru pula model menulis ini, sebab saya merasa menulis bukanlah menciptakan, tapi tepatnya mengumpulkan dan menjadikannya kesatuan. Tugas penulis ialah membentuk kesatuan ini menjadi pribadi yang berbeda dari serpihan-serpihan temuannya.
Saya pikir, salah satu pelajaran yang saya dapat setelah membaca Olenka ialah, bahwa jika anda ingin pandai menulis, anda perlu rajin mengamati sekeliling dengan detail, dan tentunya banyak membaca. Kemampuan menulis bukanlah bakat alam yang datang dari langit; ia adalah kristal-kristal dari kemampuan kita mengamati dan merasakan. Saya suka buku ini.
P.S. Buku ini terbit tahun 1979. Saya baru membacanya 2 hari yang lalu, cetakan ke 9 penerbit Balai Pustaka. Desain sampul cetakan yang terbaru jelek sekali, terlihat seperti novel horor psikologis Islami. Foto sampul di atas adalah temuan saya di artefak Google, sampul cetakan pertamanya.




